Otty Hari Chandra Ubayani, Notaris/PPAT kondang di Jakarta, komitmen untuk terus berbagi ilmu kepada banyak orang, seperti ia sampaikan pada pembekalan perbankan syariah di Hotel Grasia, Semarang, Sabtu (1/2/2020)

Semarang, innews.co.id – Baginya berbagi ilmu ibarat sebuah mata air yang tak pernah kering. Semakin dialirkan, tidak hanya memberi manfaat bagi banyak orang, tapi berguna bagi sang sumbernya. Sebab, itulah hakikatnya kehidupan manusia yakni hidup untuk berbagi.

Demikian sekilas melihat sosok Otty Hari Chandra Ubayani, SH., MH., Sp.N., yang begitu getol berbagi ilmu kepada banyak orang, khususnya bagi para notaris/PPAT di seluruh Indonesia. Seperti nampak saat ia menyampaikan makalah setebal 66 halaman berjudul ‘Problematika Akta Notaris Dalam Bidang Perbankan Syariah’, dengan pemaparan yang lugas, rinci, dan terbuka di hadapan peserta pembekalan perbankan syariah dan pembuatan perjanjian perbankan syariah yang diadakan oleh Pengurus Wilayah (Pengwil) Ikatan Notaris Indonesia (INI) Jawa Tengah di Hotel Grasia, Semarang, Sabtu (1/2/2020).

Sebagai pembicara, Otty Ubayani diberikan plakat penghargaan oleh INI Jawa Tengah usai acara Pembekalan Perbankan Syariah di Hotel Grasia, Semarang, Sabtu (1/2/2020)

Dengan bernas, Otty secara runtut memaparkan tentang perbankan syariah yang legalitasnya didasari pada UU No. 21 Tahun 2008. Dijelaskan pula yang menjadi dasar hukum perbankan syariah adalah Al Qur’an, Al Hadits, dan Itjihad.

Sementara itu, produk bank syariah sesuai UU No. 21/2008 antara lain: akad jual beli (Murabanah, Salam, Istishna), akad prinsip sewa (Ijarah), akad bagi hasil (Musyarakah dan Mudharabah), akad pelengkap (Hiwalah, Rahn, Qard, Wakalah). Sedang unsur-unsur yang tidak boleh terkandung dalam prinsip syariah yakni, riba, maisir, gharar, haram, dan zalim.

Otty H.C. Ubayani, SH., MH., Sp.N., Notaris/PPAT dari Jakarta (kiri) menjadi salah satu pembicara dalam pembekalan mengenai perbankan syariah yang diadakan oleh Pengwil INI Jawa Tengah, di Hotel Grasia, Semarang, Sabtu (1/2/2020)

Dipaparkan pula syarat-syarat pelaksanaan akad (Syuruth an-Nafadz) yakni, adanya unsur kepemilikan (al Milk) dan kewenangan (al Wilayah); orang yang tidak berwenang (Fudhuli) adalah sah tindakannya, tetapi tidak akibat hukumnya tidak dapat dilaksanakan. Dan, syarat kepastian hukum (Suyuth al-Luzum) bahwa yang menjadi dasar akad adalah kepastian, yaitu tidak ada atau terhindar dari khiyar. Apabila masih ada khiyar, akad dapat dibatalkan.

Disampaikan pula bahwa teknik pembuatan akta syariah mengikuti ketentuan UUJN atau hukum positif yang berlaku di Indonesia dan tidak bertentangan dengan prinsip syariah. Selain itu, azas kebebasan berkontrak harus memenuhi syarat sahnya sebuah perjanjian, baik menurut syariah atau KUHPer.

Para pembicara bersama pengurus INI Jateng sebelum acara di Hotel Grasia, Semarang, Sabtu (1/2/2020)

Pada kesempatan itu, Otty juga merinci tata cara pembuatan akta dan model-model akta pembiayaan pada perbankan syariah, juga SKMHT Syariah, Murabahah, Musyarakah, dan lainnya.

Otty H.C. Ubayani dengan lugas memberikan pemaparan mengenai Pembuatan Perjanjian Perbankan Syariah di Hotel Grasia, Semarang, Sabtu (1/2/2020)

Menurut Otty, dengan berbagi ilmu, maka ada kebahagiaan karena itu artinya kita ikut mencerdaskan orang lain. “Kita harus selalu meyakini bahwa ilmu yang kita miliki berasal dari Allah SWT. Karena itu, jangan ragu apalagi pelit untuk berbagi dengan sesama. Percaya, Tuhan pasti akan tambah-tambahkan ilmu pada kita,” pungkasnya. (RN)