Jakarta, innews.co.id – Kejadian mengenaskan yang beruntun terjadi di Mako Brimob, Depok, peledakan bom di tiga gereja di Surabaya, serta di kantor polisi di Sidoarjo, dan Mapolda Riau dirasa sangat mengagetkan. Indonesia saat ini bak dikepung gerombolan teroris. 

Mencermati kondisi yang ada, Otty Hari Chandra Ubayani, SH., S.pN., MH., secara khusus menyatakan berbelasungkawa untuk korban dan keluarga korban yang mengalami peledakan bom di tiga gereja di Surabaya.

“Saya berharap keluarga yang ditinggal diberi ketabahan dan kekuatan untuk bisa melalui semua ini,” ujar Otty di Jakarta, Rabu (16/5).

Tidak itu saja, secara khusus, Otty yang juga calon ketua umum Ikatan Pejabat Pembuat Akta Tanah (IPPAT) ini meminta pemerintah dan DPR lebih serius dan segera menyelesaikan revisi UU Anti Terorisme. 

Ini sejalan dengan langkah Dewan Pengurus Pusat Ikatan Alumni Universitas Diponegoro (DPP IKA UNDIP) yang sebelumnya secara langsung meminta hal serupa, seperti disampaikan Ketua Umum DPP IKA UNDIP Maryono. 

“Kami meminta  DPR dan pemerintah untuk sesegera mungkin menyelesaikan revisi UU Anti Terorisme. Namun, jika diperlukan, kami memahami bila Presiden Joko Widodo mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) tentang Anti Terorisme,” kata Maryono.

Lebih jauh Otty mengatakan, pemerintah tidak boleh kalah terhadap aksi-aksi terorisme yang begitu meresahkan masyarakat.

“Kita semua menjadi takut dan menjadi sangat berhati-hati,” kata Otty. Karena itu, dirinya meminta pemerintah bertindak tegas terhadap pelaku dan pendukung teror.

“Saya berharap pemerintah bisa mengambil tindakan hukum yang tegas sampai ke akar-akarnya agar peristiwa tersebut tidak terulang lagi karena melahirkan ketakutan,” tandas Otty.

Kepada masyarakat, Otty berharap bisa tetap tenang, tidak mudah termakan isu-isu yang provokatif, khususnya melalui media sosial. “Seluruh elemen masyarakat harus menjalin persatuan dan persaudaraan di antara sesama anak bangsa. Jangan saling mencurigai satu sama lain,” kata Otty seraya menambahkan agar masyarakat tidak lantas menaruh curiga terhadap wanita berjilbab. Mengenai hal itu, menurut Otty, sudah menjadi hak perempuan untuk mengenakannya karena menjalankan ajaran agama.

Tidak itu saja, para tokoh agama dan agamawan diharapkan bisa terus memberikan tausiah, ajaran, dan pedoman beragama secara benar dan menyejukkan, bukan yang provokatif. 

Otty juga mengajak segenap alumni UNDIP untuk ikut berperan serta menjaga persatuan dan kesatuan bangsa serta dapat membantu pemerintah, baik memberi ketenangan kepada masyarakat di sekitar tempat tinggal, maupun dalam menangani terorisme. (RN)