Jakarta, innews.co.id – Pemilihan Kepala Daerah serentak 2018 hanya diikuti oleh 8,85 persen perempuan. Perempuan yang mendaftar sebagai calon kepala daerah, masih didominasi oleh kader partai.

Data itu disampaikan Pekumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Menurut peneliti Perludem, Maharddhika, “Koalisi partai politik pengusung perempuan calon kepala dan wakil kepala daerah dibangun dalam fondasi yang lemah. Rata-rata perempuan calon kepala dan wakil kepala daerah bervisi, misi, dan program yang menyematkan kata perempuan, wanita, atau ibu hanya didukung oleh 30,43% kursi di DPRD”.

Pembentukan koalisi tidak didasarkan pada pertimbangan berbasis ideologi yang solid untuk menjalankan pemerintahan dan menghasilkan kebijakan pro perempuan. Hal itu menunjukkan ketidakseriusan partai dalam mengusung kepentingan perempuan. Platform dan ideologi partai mengenai kepentingan perempuan tidak tampak dalam pemilihan perempuan sebagai calon kepala dan wakil kepala daerah.

Di Pilkada 2018, sebanyak 49 perempuan mendaftarkan diri menjadi calon wakil kepala daerah. Dua orang perempuan mendaftar sebagai calon gubernur, yakni Khofifah Indar Parawansa, di Jawa. Timur, dan Karolin Margaret Natasa, di Kalimantan Barat.

Perempuan-perempuan tersebut, mendaftar di 78 daerah yang menggelar Pilkada Serentak 2018. Mereka tersebar di tujuh provinsi, 26 kota, dan 45 kabupaten.

Sementara tingkat partisipasi perempuan dalam Pilkada serentak 2017 lebih rendah. Hanya ada 44 perempuan dari total 614 calon kepala daerah di seluruh Indonesia atau 6,9%. Sebanyak 44 perempuan tersebut bertarung di 41 wilayah yang tersebar di 28 kabupaten, 9 kota dan 4 provinsi.

Partisipasi perempuan di 2017 itu menurun jika dibandingkan dengan Pilkada serentak gelombang pertama yang diselenggarakan pada 2015, dari 7,47% menjadi 7,17%. (RN)