Jakarta, innews.co.id – Pasca pengambilalihan PT Bank Royal Indonesia (Bank Royal) oleh PT Bank Central Asia Tbk (BCA), bank ini akan difokuskan di sektor digital. Saat ini BCA tengah mengurus izin ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Hal tersebut disampaikan Presiden Direktur BCA Jahja Setiaadmaja di Jakarta, Kamis (20/6/2019).

Dijelaskannya, proses pengembangan Bank Royal sepenuhnya baru bisa dilakukan pada Kuartal III. Sektor digital pun menjadi fokus pilihan utama guna menghadapi tantangan industri keuangan ke depan.

Dikatakannya, fokus banyak, kami lagi ada internal lagi pilih-pilih bidang apa yang paling cocok buat Bank Royal ini sebenarnya, bisa ke mikro bisa manajemen bisa macam-macam.

“Digital payment BCA memang kami kembangkan terus, tapi yang namanya digital kan luas bukan hanya payment,” kata Jahja.

Dalam RUPSLB tersebut seluruh pemegang saham minoritas BCA telah menyetujui pembelian 2.871.999 saham Bank Royal. Jumlah tersebut merupakan 99,99 persen saham yang ditempatkan dan disetor pada Bank Royal. Sementara 0,01 persen saham lainnya dibeli oleh PT BCA Finance, anak perusahaan terkendali BCA.

Menurut Jahja, selain pembayaran digital pihaknya juga tangah mengkaji kemungkinan Bank Royal untuk menjadi financial technology (fintech). Opsi lainnnya seperti fokus pada management dan mikro lending juga tengah digodok.  

“Bisa seperti model peer to peer itu juga kami pelajari di samping yang lain, opsinya banyak,” ungkapnya.

Alasan dikembangkannya digital bank tersebut juga dilatarbelakangi nasabah BCA yang terdiri dari berbagai usia. Saat ini tim IT BCA masih terus melakukan riset yang tepat agar Royal Bank dapat memberikan value added bagi perusahaan.

“Pokonya selesai ini akan kami lihat, kalau profit kan sudah bahas profit (Bank Royal) sekarang sudah Rp900 juta,” tuturnya.

Dalam laporan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (22/4/2019), BCA bersama anak usahanya PT BCA Finance membeli saham Bank Royal dari PT Royalindo Investa Wijaya, Leslie Soemadi, Ibrahim Sumedi, Nevin Soemadi, dan Ko Sugiarto.

Pembelian saham itu ditandai oleh penandatangan perjanjian jual beli saham bersyarat pada 16 April 2019. Nilai transaksinya tercatat mencapai Rp1,007 triliun. Hingga 2018, pertumbuhan kredit Bank Royal tercatat Rp566 miliar. Angka ini turun 1,32 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp574,54 miliar.

Sementara untuk laba bersih, Bank Royal mencetak untung senilai Rp857 juta. Rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) kotor Bank Royal sebesar 2,26 persen. Angka ini menurun dibandingkan tahun sebelumnya yang berada pada level 5,62 persen. Sedangkan rasio kecukupan modal sebesar 54,6 persen. (RN)