Pdt. Lipiyus Biniluk, M.Th., Ketua FKUB Papua

Jakarta, innews.co.id – Pernyataan Pdt Lipiyus Biniluk, M.Th., yang kabarnya secara terang-terangan meminta NU dan Ansor membina dan menjaga pemuda dan mahasiswa asal Papua yang berada di Pulau Jawa mengundang reaksi keras dari kalangan Kristiani. Para agamawan, tokoh, dan ormas Kristiani pun langsung bereaksi.

Melalui pesan suaranya kepada innews, Kamis (22/8/2019), Pdt Lipiyus memberikan klarifikasi. “Karena NU dan Ansor banyak di Pulau Jawa, maka kami minta untuk membantu menjaga keamanan, bukan membina. Kalau ada oknum atau ormas tertentu yang mau mengacaukan anak-anak atau mahasiswa asal Papua, maka NU atau Ansor dapat membantu atau mem-back up agar tidak terjadi konflik,” terang Lipiyus.

Pertemuan FKUB Papua menyikapi konflik yang terjadi, baik di Pulau Jawa maupun di tanah Papua

Pembinaan, lanjut Lipiyus, tentu disesuaikan dengan agama yang dianut masing-masing anak Papua. Kalau yang Kristen tentu dibina oleh pendeta-pendeta. Demikian juga yang non-Kristen dibina oleh rohaniawan agamanya masing-masing.

“Jadi, tidak benar bahwa dalam diskusi kami meminta NU atau Ansor membina anak-anak Papua di Pulau Jawa,” tegas Lipiyus.

Diakuinya, bahwa di luar Papua, ada gereja dan tokoh-tokoh Kristen yang peduli dengan anak-anak Papua. Namun, mayoritas belum memberikan perhatian atau ikut serta mengayomi anak-anak Papua.

Pdt Lipuyus Biniluk Ketua FKUB Papua, saya titip anak-anak Papua yang beragama Kristen kepada gereja-gereja dan rohaniawan Kristen di Pulau Jawa

Pun demikian saat terjadi konflik, Lipiyus menilai, gereja-gereja di Jawa tidak berusaha mendinginkan suasana dengan mendatangi tempat-tempat di mana anak-anak Papua berada. “Kami dari PGGP memang sudah membentuk tim untuk melayani pelajar dan mahasiswa asal Papua. Hanya saja karena kemampuan terbatas, maka pelayanan yang rutin dilakukan setiap bulan di Bandung. Sementara daerah lain belum berjalan baik,” terangnya.

Sementara itu, kepada anak-anak Papua, khususnya yang masih studi, Lipiyus menitipkan pesan agar belajar dengan baik sehingga bisa cepat menyelesaikan studinya.

Diharapkan juga, gereja-gereja di Pulau Jawa memiliki panggilan dan komitmen secara rohani kepada anak-anak Papua untuk melayani. “Tentu tidak mungkin kami di Papua sering-sering datang ke Jawa karena dari sisi transportasi sulit dan berbiaya tinggi. Karena itu, saya titipkan anak-anak Papua kepada gereja-gereja di Pulau Jawa untuk bisa melakukan pelayanan dan pembinaan yang komprehensif,” imbuh Lipiyus.

Lipiyus menambahkan, perlu ada kerjasama antara pimpinan gereja-gereja, apapun denominasinya di Pulau Jawa, sehingga pelayanan rohani kepada anak-anak Papua bisa dijalankan dengan baik dan penuh komitmen. (RN)