Makassar, innews.co.id – Intervensi pencegahan stunting dapat dilakukan sejak sebelum terjadi pembuahan, merekrut wanita prakonsepsi lebih nyata hasilnya, sehingga perlu mengaktifkan posyandu prakonsepsi.

Selain itu, asupan makro dan mikronutrien wanita prakonsepsi dan selama tiap trimester kehamilan berada dibawah Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang dianjurkan, dan pemberian MMN yang diberikan sejak masa prakonsepsi atau pada semua WUS dapat menghasilkan status gizi ibu dan outcome kehamilan yang lebih baik.

Lucy Widasari saat memberikan sambutan pada yudisium di Universitas Hasanuddin, Makassar, Senin (17/12)

Lucy Widasari memaparkan hal tersebut saat memberikan sambutan sebagai wakil wisudawan pada acara yudisium dan pelepasan wisudawan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin Makassar Periode Desember 2018 di Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (17/12).

Menurut Lucy, periode prakonsepsi adalah periode selama sebelum kehamilan atau satu bulan sebelum pembuahan (konsepsi) sampai dengan 2-3 bulan sesudah pembuahan yang menentukan kualitas kehidupan.

Implantasi placenta mulai 5 hari setelah konsepsi dan lengkap dalam 9-10 hari dimana hampir semua perempuan belum menyadari bahwa mereka telah hamil.

Periode paling kritis terjadinya gangguan perkembangan struktural adalah 17-56 hari sesudah pembuahan (konsepsi). Dengan kata lain, pembentukan organ (organogenesis) mulai 3 hari sesudah saat harusnya menstruasi, sebelum hampir semua perempuan mulai berpikir untuk melakukan pemeriksaan kehamilan atau antenatal care (ANC). Saat pemberian tablet besi folat yang biasanya dilakukan pada trimester kedua dianggap kurang tepat karena pembentukan organ telah terjadi pada minggu 1-3 setelah masa pembuahan  (konsepsi).

Gizi pada masa kehamilan adalah salah satu faktor penting yang mempengaruhi perkembangan embrio dan janin serta status kesehatan ibu hamil. Karena kehamilan merupakan tahapan yang berkesinambungan, maka defisiensi pada suatu periode akan memberikan dampak secara berbeda pada luaran kehamilan, seperti berat badan dan panjang badan bayi lahir.

Studi kohort

Lucy mengadakan studi kohort untuk melihat pengaruh suplementasi besi folat dan multimikronutrien (MMN) terhadap outcome kehamilan di Luwuk Banggai Sulawesi Tengah. Penelitian yang cukup panjang ini membuat Lucy harus berada di Luwuk Banggai selama lebih kurang 19 bulan.

Ditemukan bahwa bukti-bukti mutakhir yang menunjukkan bahwa penggunaan multi zat gizi mikro sebelum dan selama kehamilan berhubungan dengan penurunan kasus kelainan bawaan (kongenital), kelahiran prematur, preeklampsia, dan berat lahir rendah.

Demikian juga beberapa penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan dan perkembangan anak erat kaitannya dengan kekurangan gizi mikro. Asupan mikronutrien yang mencukupi sebelumnya selama periode prakonsepsi, akan memberikan manfaat tambahan bagi anak perempuan kurang gizi dan wanita dewasa serta dalam kasus kehamilan yang tidak direncanakan.

“Beberapa vitamin telah terbukti mempengaruhi perkembangan janin di awal kehidupan, bahkan sebelum seorang wanita menyadari bahwa dirinya hamil,” terang Lucy.

Oleh karena itu, menurut Lucy, sudah waktunya kita mencoba mengalihkan perhatian pada pemberian gizi yang tepat bagi wanita prakonsepsi, dalam rangka mendapatkan generasi penerus yang sehat dan cerdas.

“Perlu upaya intervensi untuk memperbaiki nutrisi ibu dan menurunkan hambatan pertumbuhan janin yang tepat bagi negara berkembang jika percepatannya dilakukan sebelum dan selama kehamilan, termasuk keseimbangan energi protein, kalsium dan kecukupan multimikronutrien (MMN),” tambah Lucy yang meraih lulusan terbaik program doktor FKM UnHas periode Desember 2018 dengan raihan IPK 4,00 ini.

Lebih jauh ia menjelaskan, ada beberapa vitamin dan mineral yang penting bagi wanita prakonsepsi, di antaranya: Vitamin A, E, C, D, B3 (Niasin), B6, B12, Besi, Yodium, dan Tembaga (Cuprum). (RN)