Jakarta, innews.co.id – Sejatinya, tonggak utama pencegah kekerasan dan radikalisme adalah keluarga. Sayangnya, ketahanan keluarga dinilai masih lemah. Di sisi lain, belum ada koordinasi maksimal antar-kementerian, instansi, lembaga, atau dinas lain terkait untuk fokus mengedukasi keluarga.

Menurut Child Protection Advisor PLAN International, Sigit Wacono, di Grand Sahid Jaya, Jakarta, (14/5), pihaknya sangat mendorong pemerintah lintas kementerian dan lembaga agar mengintegrasikan program-program mereka terkait keluarga dan anak.

Selama ini, kata Sigit, pemerintah masih berjalan sendiri-sendiri dalam upaya menguatkan ketahanan keluarga. Itu menjadi pekerjaan rumah yang sangat penting untul segera diselesaikan oleh pemerintah. Terutama di tengah kondisi radikalisme dalam keluarga yang semakin banyak ditemui di Indonesia saat ini.

Sementara itu, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohana Yembise, mengakui selama ini koordinasi antar-kementerian dalam membawahi berbagai urusan keluarga atau rumah tangga di Indonesia memang belum maksimal. Setiap kementerian memiliki program masing-masing yang belum terintegrasi dengan baik.

“Memang kementerian-kementerian kita belum ada yang fokus pada keluarga. Kalaupun ada masih berpencar-pencar. Kemendikbud (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan), KPPPA, BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional), Kementerian Sosial, terpencar-pencar,” ujar Yohana.

Selama ini belum pernah ada diskusi mendalam yang dilakukan lintas kementerian dan lembaga untuk membahas upaya penguatan peran keluarga. Akibatnya, semua berjalan sendiri-sendiri, dan tidak jarang menjadi tidak maksimal.

“Belum pernah kita duduk bareng membicarakan bagaimana mengatasi masalah yang mungkin ada di keluarga. Sayang memang, karena biar kita keras-keras membahas perlindungan anak kalau keluarga tidak diperhatikan akan useless,” ujar Yohana. (RN)