Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki dalam acara UMKM Meetup, Gerakan Nasional UMKM Naik Kelas di Gedung Kementerian Koperasi dan UKM, Rabu (22/1/2020)

Jakarta, innews.co.id – Gerakan UMKM naik kelas yang saat ini menjadi prioritas bukan untuk menciptakan konglomerasi baru, tapi bertujuan memperkokoh pondasi ekonomi nasional agar tidak terjadi gap yang terlalu besar antara usaha besar dan UMKM. 

Hal ini ditegaskan Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki dalam acara UMKM Meetup, Gerakan Nasional UMKM Naik Kelas di Gedung Kementerian Koperasi dan UKM, Rabu (22/1/2020). Turut hadir dalam acara tersebut Deputi Produksi dan Pemasaran Kementerian Koperasi dan UKM Victoria Simanungkalit, organisasi UMKM Naik Kelas dan para pelaku UMKM.

Menurut Teten, output yang hendak dicapai dari UMKM naik kelas adalah pertumbuhan jumlah wirausaha yang sekarang baru di bawah 1 persen dan didominasi usaha skala mikro. Padahal prasyarat negara maju jumlah pengusahanya minimal 2 persen.

Strategi untuk mencapai UMKM naik kelas, kata Teten, dengan membuka akses pasar seluas-luasnya di dalam negeri dan ekspor. Di dalam negeri dilakukan dengan memprioritaskan produk UMKM untuk pengadaan barang dan jasa K/L. Selain itu, menyasar pasar ekspor, dengan meningkatkan mutu produk agar memenuhi standar global. 

Untuk mencapai pasar ekspor, produk UMKM harus mulai memenuhi standar kualitas global. Dengan demikian, produk UMKM otomatis dapat bersaing di dalam negeri dan pasar global. Faktanya, di dalam negeri produk UMKM bertarung dengan arus produk impor yang masuk melalui e-commerce

Terkait peningkatan standar mutu, Kementerian menegaskan harus ada kemitraan antara UMKM dan usaha besar untuk membangun mindset industri di kalangan UMKM. 

Teten mengimbau pelaku UMKM memulai usahanya dengan produk yang kompetitif. Ia menyadari perlu market inteligent dan riset pasar yang sulit dilakukan  oleh UMKM. Ia meminta agar berbagai organisasi UKM membantu melakukan market inteligent dan riset dan diinformasikan ke pelaku UMKM. (IN)