Bengkulu, innews.co.id – Mengangkat produk khas di suatu wilayah mampu membuat koperasi bukan saja maju, tapi juga berperan aktif mensejahterakan anggota dan masyarakatnya. Salah satunya, Koperasi Kultura Kalamansi yang berlokasi di Bengkulu. Koperasi produksi yang berdiri sejak 2009 itu, sukses mengembangkan jeruk kalamansi (citrus microcarpa) menjadi sebuah produk ciri khas daerah tersebut.

Sirup kalamansi kini menjadi salah satu produk yang dijadikan oleh-oleh khas Kota Bengkulu.

Ketua Koperasi Kultura Kalamansi Kota Bengkulu, Djaelani berharap agar pemerintah terus melakukan pembinaan terhadap koperasi itu, terutama dalam pengawasan kualitas produk dan tambahan modal serta pemasaran. “Optimalisasi budi daya jeruk kalamansi sangat mendesak, karena produk sirupnya sudah mulai dikenal masyarakat luas. Bahkan masyarakat luar yang berkunjung ke Bengkulu, sudah mulai melirik sirup kalamansi dijadikan oleh-oleh khas Bengkulu,” ujar Djaelani, di rumah produksi Koperasi Kultura Kalamansi, di Bengkulu, Selasa (18/7).

Dikatakannya, Kementerian Koperasi dan UKM memiliki andil besar dalam mengembangkan budi daya jeruk kalamansi di Bengkulu. Kini, permintaan terhadap komoditas tersebut untuk bahan sirup semakin meningkat. Pemerintah tentu saja mendukung peranan Koperasi Kultura karena pemerintah sejak awal mendukung dijadikannya jeruk kalamansi sebagai produk unggulan.

Dalam hal ini, Kementerian Koperasi dan UKM telah memberikan bantuan berupa mesin produksi atau pengolahan jeruk kalamansi menjadi komoditas sirup.

Kementerian Koperasi dan UKM bahkan menjadikan jeruk kalamansi masuk program optimalisasi melalui pendekatan One Village One Product (OVOP). Sebelumnya, budi daya jeruk kalamansi ini ditangani melalui program OVOP, Pemerintah Bengkulu menyerahkan bibit kepada setiap warga yang mempunyai lahan di sekitar rumahnya. Langkah tersebut dilakukan, untuk meningkatkan populasi jeruk kalamansi.

Kelezatan sirup kalamansi yang telah dinikmati masyarakat, akhinya membuat permintaan pasar meningkat. Budidaya harus dilakukan untuk memenuhi permintaan masyarakat.

Pemerintah Bengkulu juga mendukung budidaya yang ditandai dengan penyerahan ribuan bibit pohon kepada Koperasi Kultura Kalamansi. Sebelum program OVOP dilaksanakan di Bengkulu, harga jeruk kalamansi di pasar Rp3.000 per kilogram.

Saat ini, nilai jualnya ikut terangkat, karena di pasar harganya naik pada setiap kilonya. Rencana bisnis yang diusung Koperasi Kultura Kalamansi, adalah melakukan pembibitan, penamaman, pengolahan, serta pemasaran. “Kami masih mengembangkan produk turunan lain, seperti selai jeruk, hingga manisan sampai sari buah jeruk kalamansi,” kata Chandra Kesuma, Ketua Devisi Kalamansi, di koperasi produksi itu.

Dia mengatakan, untuk selai dan manisan sudah berhasil dibuat hanya saja produksi dalam jumlah banyak belum dilakukan.

Menurutnya, produksi dalam jumlah besar akan dilakukan jika promosi produk turunan itu sudah gencar dilakukan dan mulai diminati masyarakat. Untuk minuman jeruk kalamansi yang dikemas dalam botol plastik kecil, kini sudah diminati masyarakat. Bahkan pesanan minuman jeruk kalamansi, selalu meningkat pada setiap harinya. “Sayangnya, kami belum berhasil melakukan inovasi pembuatan sari atau ekstrak. Karena memang kandungan vitamin C-nya sangat tinggi, sehingga kami masih terus melakukan uji coba,” kata Chandra.

Lebih jauh Chandra menjelaskan, Koperasi Kultura Kalamansi sudah memiliki lahan sendiri yang ditanami jeruk kalamansi. Dengan keberadaan kebun yang menghasilkan bahan baku tersebut, diharapkan produksi sirup dan produk turunan lainnya dapat berkesinambungan. “Kalau pun begitu, kami tentu mengharapkan pemerintah terus melakukan pembinaan terhadap koperasi, terutama dalam pengawasan kualitas produk dan tambahan modal serta pemasaran,” tandas Chandra. (RN)