Jakarta, innews.co.id – Saat ini, penyusunan naskah akademik RUU tentang Perubahan atas UU No. 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia, tengah digodok. Pemerataan pembuatan akta fidusia menjadi perjuangan yang sejatinya digaungkan oleh para notaris. Dengan begitu notaris bisa melakukan pengikatan di wilayah masing-masing sesuai objeknya. Lucunya, di kalangan notaris saat ini ada muncul istilah ‘Presiden Fidusia’, mungkin lantaran ada notaris yang terkesan memonopoli pengurusan akta tersebut.

Hal tersebut secara benderang diutarakan Otty Hari Chandra Ubayani Panodjoe, SH., SpN., MH., notaris di wilayah Jakarta Selatan, dalam perbincangan di ruang kerjanya, di bilangan Tebet, Jakarta, Kamis (1/8/2019) siang.

Otty Ubayani Panoedjoe, teruskan perjuangan demi para notaris di Indonesia

Otty melontarkan sejumlah masukan agar UU Fidusia nantinya bisa lebih kuat. Disamping itu, dapat melindungi kerja para notaris yang mengerjakan aktanya.

Beberapa masukan tersebut antara lain: pertama, keterlibatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam melakukan pengawasan dan regulasi terhadap lembaga pembiayaan tidak hanya menyangkut soal ‘kesehatan’ dalam keuangan perusahaan, tapi juga dalam hal melakukan pengikatan dan eksekusi jaminan fidusia milik debitur.

Kedua, perlu dibuat tanggal kadaluarsa pendaftaran. Ketiga, adanya sanksi bagi pihak yang tidak melaksanakan kewajiban pendaftaran fidusia. Keempat, perlindungan kepada kreditur dengan kemudahan melakukan eksekusi objek jaminan yang telah berpindah tangan atau dilarikan orang lain.

Otty Ubayani menjadi narasumber dalam memberikan masukan bagi Perubahan UU Jaminan Fidusia yang kini tengah digodok BPHN Kementerian Hukum dan HAM

Kelima, berapapun nilai objek fidusia wajib dibuatkan akta dan didaftarkan demi adanya kepastian hukum. Keenam, adanya sistem pengecekan. Misal: objek pesawat ke Kemenhub, kapal ke Syahbandar, mesin ke Sucofindo, mobil/motor ke Samsat, dan sebagainya. Pengecekan obyek jaminan fidusia demi adanya kepastian hukum.

Ketujuh, adanya peringkat fidusia. Kedelapan, menyelenggarakan sistem pendaftaran kepemilikan objek barang modal, dan persediaan dengan komputerisasi (e-kepemilikan).

Otty Panoedjoe tengah memberikan tanggapan

Kesembilan, menerapkan e-Authentication yang berguna untuk mengetahui keaslian objek. Kesepuluh, menyelenggarakan sistem pendaftaran, pembebanan, pengecekan, dan penghapusan objek fidusia melalui e-Fidusia.

Menurut Otty, penghapusan sistem sentralisasi pengurusan akta fidusia memungkinkan semua notaris bisa melakukan pengikatan. Sekarang ini, banyak dilakukan di Jakarta, padahal tidak seharusnya demikian. “Rumornya, ada notaris Jakarta yang mengurus ribuan akta, sampai ada yang doubel reportorium. Kalau benar demikian, harus segera diperiksa oleh pengawas,” ujar Otty.

Otty Panoedjoe bersama para narasumber dan peserta Forum Group Discussion (FGD) di Aula BPHN

Diakuinya, selama ini pengawas sudah ada, tapi tidak ada sanksi yang diberikan. Bukan tidak mungkin ‘main mata’ pengawas dengan notaris. Menurut Otty, ada pembatasan sehari hanya boleh urus 20 akta, tapi kalau lebih tidak dikenakan sanksi.

Ada juga ‘permainan’, akta fidusia tidak didaftarkan. Nanti kalau sudah ‘batuk-batuk’ alias berkasus, baru didaftarkan. Paling banyak soal double reportorium, dimana akta tidak didaftarkan. Bila demikian, investor tidak memiliki kepastian hukum.

Komitmen Otty Ubayani bagi para notaris

Dengan berbagai usulan tersebut, Otty berharap kerja para notaris kian terproteksi. “Sekarang ini notaris bisa terkena kasus dengan dalih ‘turut serta’ dalam sebuah masalah yang terjadi. Untuk menghindari hal tersebut, maka perlu banyak masukan dalam Perubahan UU Jaminan Fidusia ini agar kita (notaris) terproteksi,” imbuh Otty.

Tidak itu saja, Otty mengingatkan agar organisasi notaris hadir dan bisa memberi masukan mengenai hal itu. “Jangan mengedepankan ego dirinya sendiri. Kita semua bisa memberi masukan demi kebaikan bersama. Harus aktif memberi masukan-masukan. Dan, membuka ruang bagi anggota untuk ikut memberi masukan. Jangan anggota kasih masukan, malah ditanggapi negatif,” kata Otty mengingatkan. (RN)