Jakarta, innews.co.id – Tanggung jawab kesehatan ibu dan anak yang menjadi skala prioritas pemerintah sekarang, hendaknya juga dilakukan oleh semua pihak, termasuk organisasi atau lembaga swadaya masyarakat (LSM).

Menurut data Kementerian Kesehatan, memang telah terjadi penurunan angka kematian ibu melahirkan, tapi tidak signifikan. Dari 359 per 100.000 kelahiran, sekarang menjadi 305 per 100.000 kelahiran.

Sementara target SDGs, pada 2030 angka penurunan harus mencapai 70 per 100.000 kelahiran. “Tinggal 12 tahun lagi, sementara banyak hal yang masih harus diperbaiki,” kata Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd, Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani) sekaligus Vice President International Council of Women (ICW) di sela-sela acara Sosialisasi Self-Care Pita Putih Indonesia (PPI) di Ruang Malahayati, Kantor Kowani, Kamis (1/11).

Ketua Umum PPI dan Kowani Dr. Ir. Giwo Rubianto Wiyogo, M.Pd

Dikatakannya, setiap 30 menit terjadi kematian ibu melahirkan. Di Asia Tenggara, tingkat kematian ibu melahirkan di Indonesia terbesar dan di urutan keempat di dunia. Sangat memprihatinkan.

“Karena itu, harus ada sinergitas di antara stakeholders dengan masyarakat dalam menuntaskan permasalahan tersebut,” ujar Giwo Rubianto.

Karenanya, PPI bersama Kowani mengumpulkan para wanita yang tergabung dalam organisasi perempuan anggota Kowani untuk menciptakan kesepahaman dan mereduksi angka kematian ibu melahirkan.

Coba bayangkan, lanjut Giwo, bila setiap 4 hari ada 1 pesawat boeing yang jatuh dan isinya ibu-ibu yang melahirkan. Tentu sia-sia.

Kematian ibu melahirkan bukan hanya karena 4 terlalu: terlalu muda, terlalu tua, terlalu banyak, terlalu sering atau 3 terlambat: terlambat ditolong, terlambat membuat keputusan, dan terlambat memberi pertolongan, tapi juga dari kesehatan si perempuan yang sejatinya sudah harus disiapkan sebelum menikah.

Salah satu penyebab lainnya adalah kecenderungan perempuan menderita anemia. Lainnya, asupan gizi, gaya hidup, pola hidup sehat, dan lainnya.

Giwo mengharapkan para perempuan Indonesia bisa merubah mind-set dan tidak mudah terpengaruh dengan mitos-mitos yang ada.

“Ayo kita aware dengan kesehatan masing-masing. Dengan begitu, para perempuan bisa menjadi penopang bagi terbentuknya generasi yang sehat, kuat, dan unggul,” tukas Giwo. (RN)