Kolonel (Purn) Tumpal Simorangkir, putra daerah sekaligus mantan Anggota DPRD Provinsi Sumut dari Fraksi TNI/POLRI saat ditemui di Paramount, Jakarta, beberapa waktu lalu

Jakarta, innews.co.id – Sekitar 19 hektar dari 90 hektar kawasan pohon pinus yang berada di Bukit Dolok Sitarindak, Kawasan Salib Kasih, Tarutung, Tapanuli Utara ditebangi. Konon kabarnya kontraktor Indorayon yang melakukan. Bila dibiarkan, dikhawatirkan Bukit Salib Kasih akan longsor.

Tanaman pinus yang ditebangi kontraktor Indorayon

Padahal, belum lama Presiden H. Ir. Joko Widodo dan rombongan baru saja mengunjungi kawasan wisata Salib Kasih. Kala itu, Presiden Jokowi begitu mengagumi tempat wisata yang berada di atas perbukitan tersebut.

Berita mengejutkan itu disampaikan Kolonel (Purn) Tumpal Simorangkir, putra daerah sekaligus mantan Anggota DPRD Provinsi Sumut dari Fraksi TNI/POLRI saat ditemui di Paramount, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Kol Purn Tumpal Simorangkir ( Mantan DPRD Tk I SUMUT / Fraksi ABRI) Lambock Van Nanhattan Simorangkir, SH. MH. dan istri

Tumpal menjelaskan, dirinya mendapat kabar dan langsung mengklarifikasi hal tersebut. Setelah di cross check, ternyata benar, telah terjadi pembalakkan di kawasan tersebut.

“Kalau hal itu dibiarkan, desa-desa di kawasan tersebut bisa hancur dan terjadi longsor. Tidak itu saja, objek wisata Salib Kasih akan lenyap,” ujar Tumpal.

Pohon pinus yang sudah diambil getahnya

Dirinya coba berkoordinasi, ternyata kawasan tersebut menjadi tanggung jawab provinsi, bukan kabupaten. Oleh karena itu, Tumpal meminta Gubsu untuk menerbitkan aturan yang melarang penebangan di kawasan Salib Kasih. Atau setidaknya Gubsu menyurati Indorayon agar menghentikan penebangan tersebut.

Masih membekas di benaknya, pohon pinus tersebut merupakan bibit yang ia tanam tahun 1997 lalu saat menjabat sebagai anggota dewan. Kala itu, sekitar 4.000 bibit ditanam di kawasan tersebut. Dan, saat ini, perhitungannya, pohon-pohon tersebut sudah besar.

Kawasan hutan pinus yang masih tersisa di Bukit Dolok Sitarindak, Salib Kasih, Tarutung, Tapanuli Utara

“Reboisasi perlu dilakukan untuk menjaga aliran air ke kampung-kampung di sekitarnya dan menghindari longsor,” kata Tumpal yang mengaku sedih dengan pembalakan yang terjadi sekarang ini.

DR. Djonggi M. Simorangkir, SH., MH, pakar hukum pidana bersama putra bungsunya Kevin Simorangkir

Sementara itu, pakar hukum pidana DR. Djonggi M. Simorangkir, SH., MH., mengatakan, air menjadi kebutuhan bagi masyarakat di kampung-kampung di kawasan tersebut. “Kalau pohon-pohon pinus dibabat, maka aliran dari mata air di bukit pun akan hilang. Belum lagi kemungkinan terjadi longsor. Bisa hilang kampung-kampung di sana. Siapa yang mau bertanggung jawab bila terjadi hal.itu,” tanya Djonggi keras.

Karena itu, lanjut Djonggi, pemerintah harus bertanggung jawab terhadap hal tersebut. Jangan dibiarkan berlama-lama, bisa gundul nanti bukit itu.

“Saya harap pemerintah setempat dan provinsi melalui Dinas Kehutanan melakukan pengecekan terhadap hal tersebut,” pinta suami tercinta DR. Rumindang Rajagukguk ini. (RN)