Jakarta, innews.co.id – Rencana Pengurus Pusat Ikatan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PP IPPAT) menggelar Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) di Bali, 21-22 Maret mendatang menuai kecaman dari berbagai pihak.

Sebab, berpijak pada AD/ART Perkumpulan IPPAT tidak ada tertulis Rakornas, melainkan Rapat Kerja Nasional (Rakernas). Itu artinya, PP IPPAT hasil Kongres VII di Makassar, pimpinan Julius Purnawan yang saat ini tengah digugat di PN Jakarta Barat, dengan sengaja menabrak AD/ART.

Kabarnya, soal perubahan dari Rakernas menjadi Rakornas telah dikonsultasikan ke Tim Pakar PP IPPAT. Namun, sebagaimana lazimnya perubahan AD/ART harusnya dilakukan di Kongres, bukan model kongkalikong PP dengan Tim Pakar.

Mengenai hal ini, PPAT dari Cirebon Oscar Fredyan, SH., M.Kn., menjabarkan, Rakernas dan Rakornas adalah dua hal yang berbeda secara definisi, bahkan maksud dan tujuan pembuat acara.

“Kalau Rakernas adalah Rapat Kerja Nasional yang didalamnya ada unsur kerja. Kalau Rakornas didalammya ada unsur koordinasi (jadi ya belum kerja/masih wacana berpikir terhadap tujuan),” terang Oscar kepada innews, Senin (25/2/2019).

Ditanya, apakah perubahan nama ini terkait dengan parade gugatan IPPAT yang saat ini tengah berproses di berbagai pengadilan negeri, Oscar mengatakan, “Jelas ada kaitannya dengan gugatan yang sedang berjalan. Menurut saya, ini sebagai langkah politis dari PP IPPAT untuk menyatukan visi misi, bahkan memberi kesan meminta dukungan terhadap legitimasi status kepemimpinan sekarang”.

Lebih jauh disinggung soal pembiayaan upgrading yang dinilai cukup mahal, Oscar berpendapat, “Ya ini dalam rangka mencari modal untuk kas kegiatan PP IPPAT, sekaligus mencari modal untuk menghadapi gugatan dengan membayar tim pembela/lawyer PP IPPAT”.

Karena itu, menurut Oscar, PPAT tidak perlu heboh menanggapi rencana Rakornas ini. “Biasa saja. Bahkan banyak PPAT bhkn berniat untuk memboikot acara Rakornas tersebut karena tidak sesuai dengan AD/ART Perkumpulan IPPAT. Ngapain diikutin kalau sudah jelas menyimpang,” tegas Oscar.

Sementara itu, Julius Purnawan ketika dikonfirmasi enggan berkomentar lebih jauh dan hanya berkata, “Nanti di Bali ya dijelaskan”. (RN)