Jakarta, innews.co.id – Keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan sebesar 6 persen dinilai tepat. Ini lantaran situasi politik di Tanah Air belum menyentuh titik stabil.

Menurut Presiden Direktur PT Bank Central Asia (BCA) Tbk Jahja Setiatmadja, peluang penurunan suku bunga terbuka lebar. Namun, sidang sengketa pemilihan presiden (pilpres) yang kini masih berlangsung di Mahkamah Konstitusi (MK) tetap perlu diperhatikan.

“Dari segi politik, kita masih menunggu sidang MK yang menimbulkan sedikit ketidakpastian. Menurut saya (suku bunga) bulan ini tahan dulu, bulan depan bisa diturunkan,” kata Jahja di Grand Ballroom Kempinski, Jakarta, Kamis (20/6/2019).

Jahja menambahkan secara eksternal tendensi penurunan suku bunga sejatinya memang mulai terlihat. Kemungkinan The Federal Reserve (The Fed) menurunkan bunga acuannya pada September 2019 berpeluang untuk terjadi. Meski demikian, keputusan itu juga harus mempertimbangkan ketersediaan likuiditas di pasar.

“Sebenarnya kalau lihat eksternal ada tendensi untuk turun, The Fed juga harapannya sampai September turun 25 bps. Bergantung ketersediaan likuiditas pasar saat ini LDR 94 persen, BI bagus kawal dengan REPO untuk menjaga likuiditas jangka pendek,” paparnya.

Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk tetap mempertahankan suku bunga acuan atau BI 7 Days Reverse Repo Rate (BI 7-Days Repo Rate) di level enam persen pada periode Juni 2019. Hal tersebut sesuai keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 19-20 Juni 2019.

Dengan demikian, suku bunga acuan di level enam persen sudah bertahan selama delapan bulan, dari November 2018. (RN)