Kamaruddin Batubara, SE., ME., Presiden Direktur Koperasi BMI

Tangerang, innews.co.id – Koperasi tidak melulu bicara soal keuntungan, tapi bagaimana bisa memberi manfaat besar, baik kepada anggota maupun masyarakat luas. Itulah esensi koperasi sesungguhnya. Benarkah banyak koperasi hanya mengeruk keuntungan semata dan mengabaikan pengabdian pada masyarakat?

Untuk lebih jelasnya, innews mewawancarai Kamaruddin Batubara, SE., ME., Presiden Direktur Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia dan Koperasi Konsumen Benteng Muamalah Indonesia di ruang kerjanya, Kamis (5/2/2020) malam. Bagi Kamaruddin, memberi kemanfaatan bagi anggota dan masyarakat luas harus menjadi budaya dari koperasi. Berikut nukilan perbincangannya:

Kamaruddin Batubara menyusuri lorong-lorong rumah penduduk untuk menggulirkan bantuan rumah, Kamis, (5/2/2020)

Bisa dijelaskan makna hakiki dari koperasi?

Struktur ekonomi Indonesia adalah BUMN, BUMS, dan Koperasi. Namun, yang menjadi kultur bangsa ini seperti tertuang dalam UUD 1945 adalah koperasi yang menganut falsafah kekeluargaan, gotong royong, dan kebersamaan. Hal itu juga yang menjadi filosofi dari koperasi.

Kehadiran koperasi jelas harus memberi kemanfaatan bagi anggotanya dan masyarakat luas. Kalau tidak, untuk apa bikin koperasi. Jadi, tidak melulu bicara soal keuntungan. Justru yang utama adalah bagaimana masyarakat bisa merasakan betul kehadiran koperasi.

Warga di wilayah Paku Haji, Tangerang, tampak senang mendapat bantuan rumah dari Koperasi BMI, Kamis (5/2/2020)

Bisa dijelaskan kemanfaatan yang bagaimana maksudnya?

Seperti kami di BMI sudah lakukan, pembangunan rumah gratis dan tanpa DP bagi masyarakat. Sebenarnya program renovasi rumah sudah kami jalankan sejak 2007. Pada 2014, kami memprogramkan rumah gratis bagi masyarakat yang tidak mampu. Lalu pada 2016, mulai kami programkan rumah tanpa DP (down payment), bisa dicicil sampai 20 tahun. Jadi, DP 0 persen, jauh-jauh hari sudah kami jalankan di BMI.

Ini juga berangkat dari pengalaman saya, betapa sulitnya mengumpulkan uang untuk membayar DP rumah, sekitar tahun 2003. Dari situ saya berpikir, apakah harus selalu pakai DP, padahal itu hanya bagian dari mitigasi risiko. Dan lagi, dalam prinsip syariah itu tidak adil.

Saat berkecimpung dalam dunia koperasi, baru saya pahami bahwa hal itu bisa diatasi dengan pengaturan manajemen yang baik. Selain itu, amanah koperasi untuk memberi kesejahteraan kepada masyarakat juga mendorong hal tersebut, dimana terjadi kecukupan sandang, pangan, dan papan.

Dalam masyarakat kami melihat bahwa banyak orang punya tanah, tapi tidak memiliki kemampuan membangun rumah. Ada juga yang tidak punya tanah dan tidak punya rumah. Masalah-masalah ini kan harus kita bantu selesaikan. Kami dorong para pengurus dan staf BMI untuk mengkomunikasikan hal tersebut kepada masyarakat. Selain itu, pengurus juga melakukan modernisasi pembukuan yang memungkinkan hal itu terjadi.

Saya meyakini, kalau kita membantu orang, maka Tuhan pun akan memudahkan jalan kita untuk dapat rezeki. Itu prinsip di syariah. Faktanya memang demikian, dari sisi perolehan laba BMI di 2019, mengalami peningkatan signifikan. Demikian juga aset BMI semakin besar. Bahkan pajak terhadap negara pun mencapai Rp5 miliar lebih di 2019.

Hingga kini, sudah 246 rumah yang dibangun BMI, baik yang sifatnya gratis, maupun tanpa DP, dengan margin error hanya 0,3 persen. Tentu ada kriteria untuk pembangunan rumah gratis dan tanpa DP. Namun, semuanya juga diupayakan tidak memberatkan masyarakat.

Dampak dari pembangunan rumah, Koperasi BMI juga mendirikan toko bangunan untuk men-support bahan-bahan pembangunan rumah. Itu berada dibawah Koperasi BMI (Muamalah).

Kami berkeyakinan bila ini berjalan baik, maka bisa memberi kemanfaatan bagi banyak orang. Kami membangun rumah yang baik.

Ahmad Zabadi sebagai perwakilan dari Kementerian Koperasi dan UKM memberikan secara simbolis kunci rumah kepada penghuni di wilayah Paku Haji, Tangerang, Kamis (5/2/2020)

Membangun rumah gratis dan tanpa DP, apakah BMI rugi?

Tidak sama sekali. Allah SWT katakan, kalau kita memberi, pasti akan diganti. Itu tertuang pada Al Qur’an Surat Saba 34:39. Jadi, bisnis koperasi tidak harus bicara profit, tapi harus lebih banyak unsur berbaginya.

Satu fakta dari perbuatan baik yang selama ini kami jalankan adalah BMI resmi berbadan hukum koperasi pada 2013, aset kita ketika itu Rp80 miliar. Hari ini, aset kita total hampir Rp650 miliar. Pajak kita kepada negara, naik menjadi Rp5,7 miliar. Sementara laba bersih kita Rp17 miliar, dari sebelumnya Rp16 miliar. Dari seluruh indikator yang ada, kenaikan kita mencapai 20 persen. Saya meyakini itu bisa dicapai salah satunya karena perbuatan-perbuatan baik yang secara konsisten kami lakukan.

Sekarang ini, kami sudah membangun 246 rumah. Mungkin dari mereka yang mendapat rumah mendoakan BMI, sehingga Allah SWT memudahkan jalan kami. Tidak semua pakai hitung-hitungan diatas kertas.

Ada kriteria mereka yang diberikan rumah gratis?

Tentu ada. Kami menjabarkan ada fakir dan miskin. Kalau fakir, artinya, tidak punya pekerjaan dan hidupnya tidak cukup. Sementara kalau miskin, ada pekerjaan, tapi tidak cukup. Untuk fakir, kami membantu dari infaq, sementara untuk yang miskin, kami bantu dari laba anggota.

Kamaruddin Batubara tengah mengedukasi masyarakat mengenai koperasi

Atau mungkin BMI punya donatur dari luar?

Saya pastikan tidak ada. Untuk anggota, kita gunakan dana kebajikan yang bersumber dari biaya-biaya (provisi) sebesar 1 persen dari setiap transaksi. Setelah dikumpulkan 50 persen untuk kegiatan sosial, termasuk pembangunan rumah gratis, sisanya untuk capacity building, diluar dana yang kita cadangkan. Sekarang ini, jumlah anggota sudah lebih dari 240 ribu orang dari 2 koperasi, butuh dana yang tidak sedikit tentunya.

Jadi, tidak ada dana luar sama sekali. Allah SWT yang membukakan hati kita untuk membantu banyak orang lewat rumah gratis dan tanpa DP.

Pemberian rumah gratis ini apakah khusus umat Muslim saja?

Tidak juga. Baru-baru ini kami dirikan rumah untuk salah seorang etnis Tionghoa. Bahkan, kami bantu pembiayaan rumah sakit untuk anaknya yang mengalami kecelakaan dan ambulance untuk mengantarnya berobat secara rutin. Setiap pengajuan ke sini, saya tidak pernah lihat apa agama, suku, bahkan orangnya. Sepanjang Allah SWT gerakkan untuk membantu, pasti kami langsung bantu. Yang penting sesuai kritera umum yang sudah ditetapkan. Ajaran syariah tidak boleh mengkotak-kotakkan, tapi bersifat universal. Saya kenal pemilik rumah yang kami bantu baru pada saat penyerahan kunci, sebelumnya tidak pernah kenal.

Kamaruddin Batubara bersama penerima rumah dari Koperasi BMI dan jajaran kepolisian dan TNI

Apakah hanya khusus untuk anggota Koperasi BMI saja?

Tidak juga. Sejak 2017, kami sudah jadi pengumpul zakat. Nah, itu yang digunakan untuk membangun rumah bagi non anggota BMI. Sebelumnya, paling sifatnya membantu saja, bila terjadi bencana. Tapi sekarang, rumah pun kami berikan kepada non-anggota.

Lalu bagaimana dengan usaha simpan pinjam?

Ya, tetap berjalan. Hanya saja, kami membuat terobosan untuk bagaimana membantu orang-orang membuka usaha baru, bukan semata membantu mereka yang sudah punya usaha secara eksis. Karena kalau kita memberi pinjaman kepada usaha yang sudah sukses, itu sama saja kita numpang hidup dari kesuksesan orang lain.

Koperasi yang bagus harus berani membuka usaha baru bagi anggota. Jadi, kita mengenal betul kemampuan dari setiap anggota. Seperti anggota Koperasi BMI banyak yang mau menjadi petani, ya kita bantu dari sisi permodalan dan pendampingan. Kami berusaha membuat kemudahan-kemudahan bagi anggota untuk dapat meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Kami memang bekerja diluar kebiasaan.

Kalau kita memberi pinjaman kepada usaha yang sudah excist, tidak ada kebanggaan disitu. Kami berangkat dari hadist bahwa orang paling baik adalah mereka yang bisa memberi manfaat pada orang lain. Saya yakin, kalau kita sudah berbuat baik, pasti Allah SWT akan memberikan yang baik juga pada kita. Ini harus jadi budaya dalam setiap koperasi.

Ada rasa haru dan bangga dari masyarakat yang menerima bantuan rumah dari Koperasi BMI

Jadi, soal beramal dan berbagi itu harus jadi budaya dalam koperasi ya?

Kenapa tidak? Bayangkan, ada 138 ribu koperasi di Indonesia, kalau semua komitmen membangun 1 rumah setiap koperasi per tahunnya. Artinya, ada 138 ribu rumah yang diberikan kepada rakyat Indonesia bukan? Kalau begitu, masyarakat pasti menyukai koperasi dan mau jadi anggota.

Kami saja, di 2019, telah membangun 100 rumah, dan rencananya di 2020 ini akan membangun 110 rumah. Jadi, total rumah yang akan kami bangun mencapai 350 buah.

Apa hikmah yang didapat dengan konsep beramal dan berbagi yang telah konsisten dijalankan?

Iya, ini menjadi alarm buat kita bahwa masih banyak masyarakat di bawah yang membutuhkan uluran tangan. Itu juga memotivasi kita bekerja lebih keras supaya semakin banyak yang kita bantu. Sekaligus kita menjalankan amanah syariah untuk selalu berbagi pada sesama.

Tawa lepas dan penuh keriangan menghiasi wajah penerima rumah dari Koperasi BMI

Apakah hal itu menjadi program unggulan dari BMI?

Tidak juga. Sebenarnya itu hal biasa saja, hanya belum ada yang jalani jadi terkesan luar biasa. Dana yang dikucurkan pun tidak lebih 10 persen dari total anggaran pembiayaan kami.

Apakah ada hal-hal yang dilakukan untuk membuat UMKM naik kelas?

Saya kurang setuju menggunakan istilah UMKM naik kelas. Sebab, tidak juga semuanya harus naik kelas. Misal, ada usaha kecil yang spesifik, rasanya tidak harus naik kelas pun, tapi kita dampingi sehingga bisa bertahan dengan usahanya, itu sudah bagus. Contohnya, tukang sayur keliling dimana konsumennya tersebar di berbagai tempat. Kalau dia punya kios, misalnya, bagaimana caranya memanggil pelanggan-pelanggannya. Jadi, kami dorong saja supaya setiap usaha bisa menjadi lebih baik

Kamaruddin Batubara bersama Ahmad Zabadi salam acara peresmian rumah dari BMI di bilangan Paku Haji, Tangerang, Kamis (5/2/2020)

Jadi, apa program unggulan Koperasi BMI?

Kita membuat pembiayaan yang bisa merubah hidup anggota. Seperti yang sudah diterapkan, kami bisa memberi pinjaman sampai Rp85 juta tanpa agunan. Harusnya perbankan, khususnya BUMN, juga demikian. Di kami, ada 2 pembiayaan, yakni untuk investasi dan usaha. Supaya tidak ada kebohongan karena tidak boleh demikian di syariah.

Kami di BMI selalu berpikir membuat program yang bisa merubah hidup anggota menjadi lebih baik.

Saat ini, kami sudah membuka 20 cabang baru, termasuk di Cilegon dan Bogor. Tentu kami ingin terus ekspansi, hanya saja melihat efektifitas dan efisiensinya dulu. Karena kami mengelola uang masyarakat, jadi harus dipertanggungjawabkan dengan benar.

Apakah tidak ada niatan dari BMI mendirikan PT atau di listing di BEI?

Saya sama sekali tidak sepakat BMI akan dirikan PT (perusahaan terbatas). Saat ini BMI sudah punya 3 minimarket, yakni BMI Mart, 4 toko bangunan, ada 1 cafe juga. Semuanya dikelola oleh Kopmen BMI. Bahkan, kedepan akan dibuat 2 pabrik (bioetanol dan pupuk), rumah sakit, hotel, dan lainnya, tapi tetap dibawah naungan koperasi. Di koperasi one man one vote. Laba yang diperoleh dibagi rata dengan anggota. Bahkan BUMN harusnya berbentuk koperasi, bukan PT. Lihat saja, BUMN banyak yang merugi, penyertaan modal lebih besar dari keuntungan yang diperoleh.

Menurut saya, koperasi bisa membuka semua unit usaha, tidak harus dirikan PT. Koperasi sudah menjadi kultur di bangsa ini, karena itu harus terus dibudayakan. Spirit itu yang harus kita dengungkan.

Bahkan, untuk listing di BEI, kenapa koperasi tidak bisa? Harusnya bisa, tanpa harus memakai nama PT.

Kamaruddin Batubara tegaskan beramal dan berbagi konsep koperasi sesungguhnya

Terakhir, apa yang bisa disampaikan terkait pentingnya membangun koperasi yang bermanfaat bagi anggotanya dan masyarakat luas?

Pengurus-pengurus koperasi harus menjadi pejuang untuk mengedukasi masyarakat mengenai kemanfaatan koperasi. Ada tahapan-tahapan yang harus dijalani. Juga pemerintah harus menaruh perhatian serius terhadap pertumbuhan dan perkembangan koperasi di Indonesia melalui kebijakan-kebijakan yang pro koperasi. (RN)