Jakarta, innews.co.id – Menjawab ‘serangan’ banyak pihak terkait melemahnya rupiah terhadap dollar Amerika Serikat yang hampir menembus Rp15 ribu, Presiden Joko Widodo menyebut, hal itu dikarenakan faktor eksternal.

Jokowi mengatakan pemerintah terus berkoordinasi dengan otoritas terkait agar rupiah bertahan dari gempuran dolar AS. Demikian pula upaya menjaga kondisi ekonomi agar tidak berpengaruh terhadap masyarakat Indonesia.

“Saya terus melakukan koordinasi di sektor fiskal, moneter, industri, pelaku-pelaku usaha. Saya kira koordinasi yang kuat ini menjadi kunci sehingga jalannya itu segaris semuanya,” jelasnya di Jakarta, Kamis (6/9).

Menurut Jokowi, penyebab melemahnya rupiah ialah disebabkan faktor eksternal yang bertubi-tubi. Baik berkaitan dengan kenaikan suku bunga di AS dan juga perang dagang antara AS dan Cina. Juga berkaitan dengan krisis di Turki dan Argentina.

Karena itu, pihaknya bakal mengurangi defisit transaksi berjalan dengan menggenjot ekspor dan mengurangi impor. Investasi juga harus terus ditingkatkan agar pondasi ekonomi dalam negeri bisa terus diperkuat. Sehingga jika hal itu bisa dilaksanakan maka semua permasalahan selesai.

“Target saya sudah berikan, agar dalam satu tahun betul-betul ada perubahan di penyelesaian defisit transaksi berjalan,” tandasnya.

Tidak hanya itu, langkah antisipasi yang dilakukan pemerintah lainnya yakni mewajibkan penggunaan solar bercampur minyak kelapa sawit 20 persen (B20). Itu ditempuh guna memangkas impor minyak, dalam rangka mengurangi defisit transaksi berjalan (current account deficit). Kemudian, peningkatan kandungan dalam negeri, sehingga mengurangi ketergantungan akan impor.

“Ini yang saya sampaikan baik ke kementerian, swasta maupun BUMN agar local content diperhatikan,” imbuhnya. (RN)