Jakarta, innews.co.id – Sarung hasil tenunan Suku Baduy merupakan budaya leluhur turun temurun. Sayangnya, dari sisi pemasaran masih sangat kurang.

Hal ini dikatakan salah seorang UKM perajin sarung asal Baduy bernama Jamal Setiabudi dalam Festival Sarung 2019 di Jakarta, Minggu (3/3/2019).

Menurut Kang Jamal–sapaan akrabnya, bagi masyarakat suku baduy, menenun sarung sudah merupakan budaya warisan leluhur yang wajib dilestarikan hingga saat ini.

“Sudah menjadi tradisi di masyarakat Baduy, setiap anak berusia 9 tahun sudah diajarkan bagaimana menenun sarung. Membuat sarung bagi kami merupakan amanah leluhur”, kata pria berusia 36 tahun ini.

Sarung khas Baduy memiliki beberapa motif unggulan di antaranya, Samping Poleng, Poleng Hideung (kotak-kotak besar), Poleng Capit Urang (kotak-kotak kecil), hingga motif Janggawari.

“Harga sarung khas Baduy berkisar antara Rp250 ribu hingga yang termahal Rp1,7 juta yang motif Janggawari,” ucap Kang Jamal yang berdomisili di Kampung Kadu Ketug, Kabupaten Lebak.

Kang Jamal mengakui, masyarakat Baduy tak memiliki kendala dalam memproduksi (menenun) kain sarung, termasuk dalam menentukan motif dan coraknya. “Yang masih menjadi kendala para perajin kain sarung khas Baduy adalah pemasaran. Saat ini, kami benar-benar kebingungan bagaimana cara memasarkan produk sarung tenun khas Baduy ini,” ungkapnya.

Diakui Jamal, pihaknya mendapat binaan dari Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Lebak dan Provinsi Banten. “Setiap acara-acara besar di kabupaten atau provinsi, perajin produk sarung tenun khas Baduy selalu diundang. Hanya saja, frekuensinya masih terbilang minim. Ikut pameran-pameran produk UKM di sana, ya paling satu tahun sekali,” imbuhnya.

Sementara para perajin sarung khas Baduy terus memproduksi setiap harinya. Satu orang perajin mampu memproduksi satu sarung dalam seminggu. “Saya saja memiliki 15 orang, bisa dihitung berapa produksi kami dalam sebulan. Pernah satu waktu, produk kami menumpuk karena kami kebingungan dipasarkan kemana dan bagaimana caranya,” aku Kang Jamal.

Oleh karena itu, Kang Jamal menyambut baik gelaran Festival Sarung 2019 di Jakarta ini. “Bagi kami, acara seperti Festival Sarung ini merupakan peluang bagi pemasaran sarung tenun khas Baduy. Karena, kami memang benar-benar membutuhkan sarana pemasaran seperti pameran-pameran ini. Saya berharap ada bantuan program dari pemerintah agar kendala pemasaran sarung tenun khas Baduy bisa segera teratasi,” tukas Kang Jamal.

Meski begitu, Kang Jamal mengakui bahwa dirinya kini tengah belajar pemasaran melalui sistem online. Kami sepertinya butuh pelatihan mengenai pemasaran online.

Selain kendala pemasaran, ungkap Kang Jamal, para perajin sarung asal Baduy ini juga tengah memikirkan satu brand yang mampu menguatkan eksistensi sarung tenun khas Baduy. “Kami masih mencari satu nama yang pas dan cocok untuk menggambarkan brand produk sarung tenun khas Baduy,” pungkas Kang Jamal. (RN)