The Kuningan Place

Jakarta, innews.co.id – Diduga memutuskan perkara tidak obyektif, Hakim Pengadilan Tinggi DKI Jakarta diadukan ke Komisi Yudisial.

Ini terkait kasus pidana penipuan yang dilakukan Dirut PT Kemuliaan Megah Perkasa (PT KMP), Yusuf Valent kepada PT Brahma Adhiwidia (PT BA).

Menurut Andreas FK dari AndreasFK Associates selaku kuasa hukum PT BA kepada innews, usai mengajukan pengaduan ke KY di Gedung Komisi Yudisial Jakarta, Jumat (11/10/2019), pihaknya mengadukan SP Hakim Ketua dalam sidang tindak pidana penipuan yang dilakukan oleh Dirut PT Kemuliaan Megah Perkasa (PT KMP), Yusuf Valent kepada PT Brahma Adhiwidia (PT BA) di Pengadilan Tinggi Jakarta yang dinilai telah mengambil pertimbangan yang jauh dari fakta hukum dalam persidangan.

Laporan pengaduan sudah diterima oleh Bagian Pengaduan KY termasuk transkrip rekaman suara.

Andreas menguraikan kejanggalan yang diperlihatkan hakim SP dalam mengadili kasus penipuan yang menimpa kliennya.

“Di Pengadilan Negeri sudah kena pidana dengan pasal yang disangkakan yaitu, 378 dan 263. Tetapi semuanya oleh hakim SP malah dibebaskan,” ujarnya.

Anehnya, lanjut Andreas, oleh Hakim SP malah lepas begitu saja. “Makanya kita laporkan supaya KY segera menindaklanjuti pelaporan ini. Secara garis besar dalam aduan kami, hakim SP sangat tidak adil dan memutarbalikkan fakta,” tegas Andreas.

Keanehan lain, masih kata Andreas, hakim bertindak sebagai penasihat hukum dan membela terdakwa. Dia bilang tidak terbukti unsur-unsurnya.

Lebih jauh Andreas berharap pengaduannya ini bisa direspon dengan serius oleh KY, supaya hakim SP segera diselidiki dan diproses.

“Kita berbuat seperti ini dengan harapan nanti pada saat kasasi di Mahkamah Agung, tidak seperti ini lagi. Lebih perhatian. Kita mau proses peradilan yang bersih. Kita ingin dapat keadilan,” tambahnya.

Dijelaskan pula, kliennya sudah rugi besar lantaran tindak penipuan yang dilakukan saudara terdakwa Yusuf Valent, mencapai Rp100 milyar. “Itu baru kerugian materil, belum lagi kerugian imateril karena tempat tidak bisa disewakan sebagai kantor komersial,” paparnya.

Kasus ini, dikisahkan Andreas, sudah berlangsung lama, tepatnya sejak 2011, dimana kliennya (PT BA) ditipu oleh Yusuf Valent yang menjual unit ruang kantor yang ternyata adalah auditorium, di lantai 7 dan 8 Lumina Tower, The Kuningan Place.

Di PN Jakarta Selatan, hakim telah memutuskan bahwa Yusuf Valent terbukti secara sah dan meyakinkan. Namun, saat di PT, kasus ini menjadi sumir. Malah hakim disinyalir ‘bermain’ dengan putusannya yang merugikan PT BA. (RN)