Otty Hari Chandra Ubayani Panoedjoe, SH., Sp.N., MH., saat memberikan refleksi dunia ekonomi 2019 di Jakarta, Jum'at (27/12/2019)

Jakarta, innews.co.id – Kebijakan pemerintah menurunkan suku bunga bank dari 13 persen menjadi 7 persen, telah menggeliatkan sektor ekonomi di penghujung 2019, setelah kurang lebih 3 tahun terakhir dirasa melesu. Kedepan, diharapkan pemerintah secara konsisten menerapkan kebijakan yang pro rakyat.

Penegasan ini disampaikan pengusaha nasional yang juga seorang Notaris/PPAT ternama Otty Hari Chandra Ubayani Panoedjoe, SH., Sp.N., MH., dalam merefleksi pertumbuhan sektor bisnis di 2019 serta harapannya di 2020, di Jakarta, Jum’at (27/12/2019) siang.

Otty H.C. Ubayani bersama Dirjen Pajak yang baru

Menurut Otty, dampak kelesuan begitu kentara di dunia properti. Stock banyak, namun buyer-nya tidak ada. “Kalau dunia usaha lesu, tentu berdampak pada kinerja para notaris terkait pembuatan akta jual beli dan sebagainya,” kata Otty.

Secara terbuka, Otty menjabarkan, bahwa kelesuan juga mendera hampir seluruh negara di dunia. Perang dagang China dan Amerika Serikat turut memperparah kondisi tersebut.

Selain itu, berdampak juga pada investasi yang kurang menggairahkan. Sejauh ini penanganan proyek-proyek pembangunan di Indonesia dilakukan oleh BUMN, pihak swasta kurang dilibatkan. Tak heran, kredit perbankan pun banyak diarahkan ke BUMN.

Otty Ubayani bersama Rektor Undip dalam sebuah acara di Jakarta

Otty mengaku, pertengahan Desember 2019, selain suku bunga bank sudah turun, juga banyak orang melakukan transaksi jual beli, baik tanah maupun properti. Kebanyakan mereka para pemilik saham yang baru membagi deviden akhir tahun. “Ini membawa keberkahan tersendiri bagi kalangan notaris. Bagi saya, ini ibarat rezeki anak soleh,” ujar Otty sembari terbahak.

Penurunan suku bunga, kata Otty, sangat berdampak besar bagi pertumbuhan ekonomi dan merangsang orang untuk melakukan transaksi perbankan. Selain itu, transaksi jual-beli juga menggeliat.

Karena itu, Otty berharap kedepan penurunan suku bunga perbankan tetap dipertahankan.

Selain itu, penerapan revolusi industri 4.0 dan sistem OSS, menurut Otty, berdampak besar bagi menurunnya income notaris karena dalam banyak hal sudah diambil oleh sistem. Karenanya, sejak jauh-jauh hari, Otty sudah mensiasati hal tersebut dengan berbagai resep jitu. “Tidak ada pengurangan pegawai, hanya saja pengalihan tugas. Misal, selama ini biasa urus akta tanah, dialihkan menangani administrasi di kantor,” urai Otty.

Otty Ubayani yakinkan tahun 2020 prospek ekonomi Indonesia akan lebih baik

Selain itu, Otty juga melakukan berbagai terobosan penting. “Kita harus mau banting stir. Gak boleh lemot (lemah otot). Kita harus bisa melihat celah-celah bisnis yang bisa dimanfaatkan oleh notaris,” jelasnya.

Untuk semua itu, Otty selalu mengupgrade diri dengan pengetahuan-pengetahuan baru. “Ya kita harus mau terus belajar. Jangan stagnan dengan ilmu yang selama ini ada. Kita bekerja jangan pakai kacamata kuda, tapi terus berupaya membenahi kemampuan diri Zaman saja terus berubah, masak kita tidak,” tandasnya.

Di 2020, Otty meyakini ada banyak peluang yang bisa dimanfaatkan oleh notaris. “Saya yakin peluang-peluang pasti ada, termasuk teman-teman notaris di daerah. Intinya, kita harus kreatif,” imbuh Ketua Umum Ikatan Alumni Notariat (Ikanot) Undip ini.

Kepada para notaris, Otty mengingatkan, jangan karena sudah menjadi notaris lantas merasa paling pintar atau paling tahu semuanya. Terus tingkatkan kapasitas diri, supaya tidak tergilas oleh perkembangan zaman. Hal lainnya, jangan merasa susah menjadi sosok yang kebal hukum. Tidak ada yang menjamin kita selalu terbebas dari kasus-kasus hukum. Sebab, pekerjaan yang dilakoni selalu bersentuhan dengan hukum.

“Jadilah notaris pembelajar dan waspada tiap kali menangani sebuah transaksi atau akta-akta. Benar-benar dipelajari secara cermat,” pungkas Otty. (RN)