Jakarta, innews.co.id – Menutup tahun dan memasuki tahun yang baru sangatlah penting bila semua pihak melakukan koreksi dan refleksi, baik terhadap diri sendiri maupun kelompoknya. Apa yang sudah dilakukannya di tahun yang lama, bila memang buruk, sejatinya ditinggalkan, saat memasuki tahun yang baru.

Harapan ini disampaikan advokat senior Haposan Hutagalung, SH., ketika diminta refleksinya terhadap penegakan hukum di Indonesia di 2018 dan proyeksi di 2019, di ruang kerjanya, beberapa waktu lalu.

Dalam kacamata Haposan, sudah banyak kemajuan yang dilakukan pemerintahan yang dipimpin oleh H. Ir. Joko Widodo dalam hal penegakan hukum. 

“Kita harus jujur mengatakan bahwa sudah banyak kemajuan yang dilakukan pemerintahan Joko Widodo dalam hal penegakan hukum. Sekalipun masih ada yang nyinyir dengan prestasi Pak Jokowi, namun masyarakat sudah bisa melihat secara terbuka bahwa penegakan hukum berjalan dengan baik,” ujar Haposan.

Haposan Hutagalung ajak semua pihak lakukan refleksi pribadi

Ditambahkannya, “Beliau (Pak Jokowi) mampu memanage seluruh aparatur negara, terutama yang bersentuhan langsung dengan penegakan hukum seperti Kejaksaan, Kehakiman, Kepolisian, KPK, dan sebagainya. Banyak progress yang bisa kita lihat langsung. Tapi, harus diakui masih ada oknum-oknum yang memang punya motif mau menjarah uang rakyat dan memperkaya diri sendiri”.

Ini terbukti dengan banyaknya pejabat, baik di pusat maupun daerah yang tertangkap korupsi. Pun dari kalangan swasta. 

Lebih gigih

Untuk itu, di 2019, Haposan berharap, Pemerintahan Jokowi kian meningkatkan kinerja dalam hal pemberantasan korupsi. Bagi Haposan, intinya, jangan merampok apa yang bukan menjadi hak Anda.

“Hendaknya setiap pejabat, baik pegawai negeri maupun swasta berjanji pada diri sendiri untuk tidak mau korupsi. Anak-istri saya tidak mau makan uang hasil korupsi atau hasil rampokan. Jangan jadi bangga karena punya mobil, apartemen mewah tapi hasil merampok uang rakyat,” imbuh Haposan.

Haposan Hutagalung, pastikan hukum di rel yang benar

Mungkin manusia bisa dibohongin, tapi Tuhan tidak. “Nikmatilah apalah yang menjadi hak kita, sesuai jerih payah yang kita lakukan. Sebab, cukup tidaknya penghasilan berpulang pada diri sendiri. Punya uang milyaran kalau hidupnya menghambur-hamburkan uang, pasti tetap saja kurang. Tapi kalau pun penghasilan minim, tapi bisa digunakan dengan baik dan penuh rasa syukur pada Tuhan, pasti akan cukup juga,” saran Haposan.

Sudah banyak bukti, mereka yang berpenghasilan banyak dengan cara-cara yang tidak baik, justru anak-istrinya jadi tidak keruan.

Haposan juga berharap, setiap pejabat di negeri ini, jangan punya niat jahat, misal, dengan membeli perkara orang untuk men-TO-kan (target operasi) orang lain. Itu bisa membuat situasi tidak stabil. “Biarkan para penegak hukum bisa bekerja dengan baik, jauh dari intervensi. Jangan ada oknum pejabat pegawai negeri yang menyalahi tugas dan wewenang yang ada padanya. Jalankan tugas dengan benar, proporsional, dan profesional,” cetusnya.

Haposan juga mengajak semua pihak untuk bersama-sama memperbaiki nurani. “Jangan lagi mau diperintah menjalankan siasat yang jahat. Kalau negara ini mau lebih baik dan lebih bersih, masing-masing orang bekerja sesuai tupoksinya masing-masing. Bukan dengan arogan atau karena like or dislike,” sarannya.

Kepada warga sipil juga, Haposan berharap lebih cerdas dan jangan mau ‘dibeli’ untuk kepentingan seseorang atau satu kelompok. Idealisme tetap penting dimiliki tiap insan. “Jangan merasa nyaman di dunia, sementara uang yang diperoleh berasal dari kejahatan. Ingat, hidup ini ada limitnya. Nanti Tuhan akan hukum dengan cara-Nya,” tukasnya. (RN)