Jakarta, innews.co.id – Nama Restaurant Angke sudah kesohor sejak lama. Tak heran, restoran yang merupakan bisnis keluarga turun temurun ini telah memiliki loyalis, mulai dari kakek-nenek sampai temurun ke generasi muda.

Itu nampak dari para pengunjung yang datang ke restoran tersebut terdiri dari lintas generasi. Untuk mengetahui lebih jelas, innews menemui Robby Tjahaja bidang Digital Marketing dan IT di Restaurant Angke, yang tak lain adalah keponakan Pimpinan Restaurant Angke Peter Leeansyah Lie.

Restaurant Angke di Ketapang

Dalam perbincangan dengan Robby Tjahaja, di Restaurant Angke Kelapa Gading, beberapa waktu lalu terkuak perjalanan panjang dari Restaurant Angke yang ternyata cukup berliku. Siapa sangka dibalik kemegahannya kini, restoran ini mengalami jatuh bangun dalam merintis usahanya.

Kalijodo

Mulai beroperasi sejak tahun 1965, restoran ini berawal dari sebuah rumah di bilangan Kalijodo, Jakarta Barat. Dengan hanya bermodal tiga meja dan makanan yang dijual pun hanya ayam garam dan bir saja. Sang Kakek yang bernama Wong Po Hon memang dikenal jago masak. Bahkan, sampai kini tercatat ada 225 menu, rata-rata buatan Kakek Robby. Sementara itu, sang nenek Sin Fa dikenal kampiun mengelola administrasi. Klop sudah!

Tahun 1976, restoran pindah ke Tubagus Angke. Disana terdapat delapan meja, sehingga bisa menampung lebih banyak orang lagi. Di tempat itulah, orang banyak mengenal tempat makan itu dengan sebutan ‘Angke’. “Ya, orang kalau menyebut, ayo kita makan ke restoran yang di Angke,” ujar Robby.

Dua tahun di Tubagus Angke, tempat makan ini kembali pindah ke Mangga Besar, lalu kembali pindah ke daerah Ketapang, tepatnya Jl. K.H. Zainul Arifin. Ditempat itulah, hingga kini Restaurant Angke berdiri. Baru pada 2005, dibuka cabang di Kelapa Gading.

Di tempat ini ‘Angke’ tidak hanya sebatas restoran, tapi juga dengan Function Hall yang bisa digunakan untuk wedding, rapat, perayaan ulangtahun, dan sebagainya. Satu tempat lagi bernama Hong He berada di Pantai Indah Kapuk, sebagai simplyfied dari Angke. “Tempatnya lebih kecil. Bedanya, kalau di Angke ada 225 menu, maka di Hong He hanya terdapat 38 menu,” terang Robby.

Menu terakhir yang dibuat Sang Kakek sebelum wafat, tahun 2009 silam di usia ke 95 tahun adalah Sapo Urat Sapi.

Higienis

Soal kebersihan makan begitu terjamin di restoran ini. Terbukti, dari proses awalnya pun bisa dikatakan begitu detail. Robby mencontohkan, bila membeli udang dari supplier, biasanya kalau barang datang harus dipilih satu per satu. Sehingga ketahuan mana udang yang benar-benar bagus, mana yang tidak.

Suasana makan di Restaurant Angke

Demikian pula cara masaknya punya keunikan tersendiri. Misal, udang yang dipilih tadi tidak boleh di simpan berlama-lama, tapi harus segera dimasak dan disajikan ke konsumen. Karena itu, perhitungan jumlah pembelian pun sangat terinci.

Soal pengunjung, menurut Robby, ada banyak pelanggan Angke yang sudah menganggap restoran ini seperti rumah sendiri. Karena pelanggan juga dimanjakan dengan bisa me-request menu sendiri. “Pelanggan bisa memodifikasi dari menu yang ada,” tandas Robby.

Kepuasan pelanggan menjadi hal yang utama di Restaurant Angke. Pelanggan bak raja bila masuk ke Restaurant Angke. Tidak heran, restoran ini memiliki loyalis yang tidak terhitung banyaknya dari berbagai rentang usia.

Perayaan di Restaurant Angke

Menu terbaru yang ada, menurut Robby, adalah gurame goreng telur asin yang saat ini masih menjalani test food.

Ke depan, kata Robby, Restaurant Angke juga rencananya akan buka di daerah Daan Mogot. Mau menikmati makanan higienis, datang saja ke Restaurant Angke! (RN)