Jakarta, innews.co.id – Revolusi Industri 4.0 kian ramai diperbincangkan. Sayangnya, masih banyak generasi muda yang belum memahaminya.

Guna menyiapkan langkah para generasi muda, Bekerja Talks mengadakan diskusi bertajuk “Kesiapan Anak Muda Indonesia Dalam Menyambut Revolusi Industri 4.0” di A House, Jakarta, Sabtu (2/2/2019).

Para narasumber bersama moderator Regina Vianney Ayudya Caleg DPRD Provinsi DKI Jakarta dari PDI Perjuangan dapil Jakarta 7 di A House, Jakarta, Sabtu (2/2/2019)

Sejumlah pembicara yang expert dibidang hadir pada kesempatan tersebut di antaranya, Budiman Sudjatmiko Ketua Umum Inovator 4.0. Indonesia sekaligus Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Bimo Haryo Pamungkas, CFA., investment banker dengan moderator Regina Vianney Ayudya pengusaha sekaligus calon legislatif DPRD DKI Jakarta dari PDI Perjuangan daerah pemilihan 7 Jakarta Selatan.

Suasana diskusi lesehan ini membuat para milenials mampu berdiskusi secara terbuka.

Budiman memaparkan lahirnya UU Desa membuat ada pengalokasian anggaran rutin bagi pembangunan desa sebesar Rp1 milyar per tahun. “Ini sangat efektif untuk mendorong bukan saja pembangunan, tapi juga desa bisa kreatif untuk mengembangkan diri dan muaranya mensejahterakan warganya,” kata Budiman.

Suasana diskusi di A House, Jakarta, Sabtu (2/2/2019)

Tidak itu saja, ia bersama rekan-rekan lainnya juga mendorong para milenials yang masih bekerja dan studi di luar negeri untuk mau terlibat langsung dalam pengelolaan dana desa lewat terobosan-terobosan atau ide kreatif yang disesuaikan dengan kearifan lokal.

“Bukan berarti para profesional anak bangsa yang berkarir di luar negeri harus kembali ke Indonesia, tapi bisa menjadi mentor bagi penggunaan dan pengelolaan dana desa dengan konsep yang kreatif,” ujar Budiman.

Sementara itu Regina usai acara mengatakan, kita sudah melalui Revolusi Industri 3.0, dan sekarang masuk ke 4.0. Karena itu, utamanya milenials, harus benar-benar menyiapkan diri sebaik-baiknya agar bisa ikut terlibat.

Saat ini, kata Regina, semua sudah automation. Jadi, bagaimana kalau semua sudah dikerjakan oleh mesin dan robot, lantar kita dituntut untuk bisa menciptakan lapangan kerja baru.

“Jangan kita sampai stagnan, seolah tidak bisa berbuat apa-apa. Generasi muda harus berbuat sesuatu untuk bangsa dan negara,” ajak Regina.

Jika selama ini Indonesia dikenal sebagai bangsa yang konsumtif, maka stigma itu harus dirubah. “Kita bisa membuat sesuatu hal yang terbaik menjadi creator, inovator, dan owner dengan berbagai temuan berbasis teknologi yang ada,” tandas Regina.

Ke depan, tambah Regina akan dibuat diskusi-diskusi yang lebih intens dan langsung action. (RN)