Rina Ariesandy, SH., M.Kn., Notaris/PPAT Kabupaten Bogor saat ditemui di kediamannya yang asri di bilangan Cibubur, Sabtu (14/12/2019)

Jakarta, innews.co.id – Keguyuban diantara para anggota menjadi sebuah persyaratan mutlak jalannya roda organisasi. Syarat lainnya adalah pengayoman, informatif, profesional, transparansi, akuntabel.

Hal ini dikatakan secara terbuka oleh Rina Ariesandy, SH., M.Kn., Notaris/PPAT Kabupaten Bogor saat ditemui di kediamannya yang asri di bilangan Cibubur, Sabtu (14/12/2019). Menurut Rina, tanpa keguyuban, sangat sulit sebuah organisasi berjalan. “Kita harus guyub dulu, baru bisa bergerak bersama,” ujarnya.

Sebuah acara yang digagas Rina terkait perlindungan Notaris

Dengan guyub, lanjut Rina, silahturahmi bisa terjalin dengan baik. Tidak ada pengkotak-kotakan diantara sesama anggota. Sudah menjadi rahasia umum bahwa saat ini ada disparitas antara kelompok tua dengam milenial. Hal itu perlu dijembatani. Jadi, yang muda merasa mendapat ruang cukup berekspresi, sementara kelompok tua bisa mengayomi.

Membangun sinergitas antara INI dan IPPAT menjadi salah satu contoh terciptanya keguyuban. “Baiknya, INI dan IPPAT di Kabupaten Bogor memiliki Sekretariat bersama,” ujar Rina yang tamatan Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada, Yogyakarta dan Master Kenotariatan di Universitas Airlangga, Surabaya, ini.

Tidak itu saja, tambahnya, dalam sebuah organisasi hak-hak anggota perlu dipenuhi. Salah satunya bagaimana organisasi mampu mendampingi anggota bila terseret pada suatu kasus hukum.

Rina bersama rekan-rekan dalam acara Ngopi (Ngobrol Pintar)

Untuk itu, Rina memandang penting penguatan bidang advokasi dan perlindungan anggota. Diakuinya, selama duduk di Tim Kesekretariatan, Rina melihat banyak Notaris/PPAT yang berperkara hukum. Untuk itu, dibutuhkan pendampingan hukum, baik dalam pemeriksaan polisi, maupun di pengadilan. “Kalau kita kuat dalam advokasi, maka akan muncul trusting dari para anggota,” yakin Rina yang digadang-gadang menjadi Calon Ketum Ikatan Notaris Indonesia (INI) ini.

Selain itu, perlu dibangun sinergitas dengan para penegak hukum. Karena itu, maksimalisasi bidang perlindungan anggota menjadi keniscayaan yang membuat organisasi selalu di hati anggotanya.

Rina juga memandang penting sebuah organisasi memiliki sistem informasi yang terbuka, sehingga banyak hal bisa disampaikan dari pengurus kepada anggota dan sebaliknya.

Salah satunya bisa melalui pengaktifan website organisasi atau melalui media-media lain. Begitu juga sebuah organisasi harus mengedepankan transparansi dan akuntabel. “Laporan keuangan harus dipublish agar anggota tahu. Jangan sampai anggota bertanya-tanya soal penggunaan dana organisasi,” urainya.

Hal lainnya adalah bagaimana memberi edukasi dalam meningkatkan kapasitas anggota melalui diklat-diklat. Hanya saja, Rina lebih memilih tidak semua diklat harus berbayar. “Biarkan anggota bisa mendapat ilmu berkualitas tanpa harus dipungut biaya,” tandasnya.

Panggilan jiwa

Menjadi notaris adalah sebuah panggilan jiwa bagi Rina. Ia melakoninya sejak 2005 di Kabupaten Bogor. Sebelumnya ia sempat berkarir di Kantor Notaris Yualita Widyadhari.

Rina Ariesandy, SH., M.Kn., Notaris/PPAT Kabupaten Bogor, sebuah gerakan ‘Poros Tengah’

Dalam waktu dekat, Pengurus Daerah INI Kabupaten Bogor Akan menyelenggarakan Konferensi Daerah di Sentul, Bogor, Rina berharap hajatan akbar tersebut bisa berjalan dengan lancar dan menghasilkan pemimpin yang berintegritas dan mumpuni dalam menakhodai INI Kabupaten Bogor untuk 3 tahun ke depan.

Untuk itu, diharapkan panitia penyelenggara juga bisa bersikap netral sehingga hasil pemilihan nantinya bisa diterima semua pihak. “Ya panitia harus punya integritas dan netralitas,” kata Rina.

Dia mengajak semua pihak untuk bersama-sama menjaga marwah organisasi INI dan tidak mencemarinya dengan perbuatan-perbuatan yang melanggar norma-norma. (RN)