Robertho Manurung, pengamat sosial politik

Jakarta, innews.co.id – Pemilihan kepala daerah (Pilkada) Kota Medan memunculkan nama Bobby Nasution yang digadang-gadang maju pada pencalonan nanti. Sejak dini, menantu Presiden Joko Widodo ini sudah rajin sowan ke beberapa partai politik guna mendapat dukungan.

Menanggapi munculnya nama Bobby Nasution, pengamat sosial politik Robertho Manurung mengatakan, pada dasarnya, mencalonkan ataupun dicalonkan menjadi hak setiap individu. Hanya saja, sebagai orang baru muncul dalam dunia politik, Robertho menyarankan Bobby tidak langsung mencalonkan jabatan sebagai walikota.

“Ada baik, sebagai pembelajaran awal, Bobby memilih sebagai wakil walikota dulu. Dengan begitu, ada waktu cukup untuk belajar baik dalam dimensi politik maupun birokrasi,” urai Robertho kepada innews, Selasa (21/1/2020) kemarin.

Dikatakannya, meski Presiden Jokowi mengatakan tidak akan mencampuri pencalonan anak dan menantunya itu, namun orang akan tetap melihat sosoknya sebagai bagian dari keluarga presiden.

“Dalam genetika politik terdapat perbedaan antara Anak dengan Mantu Presiden, sehingga tingkat keterpengaruhan bobot politik pun berbeda, terlebih demokrasi kita rakyat sebagai pemegang kedaulatan,” jelasnya.

Robertho menambahkan, kalau Bobby memilih jabatan sebagai wakil walikota, masyarakat akan lebih respek. “Toh, Bobby kan juga masih muda. Masih banyak waktu untuk belajar dan mempelajari iklim perpolitikan. Tidak usah gegabah, mentang-mentang mertuanya orang nomor satu di negeri ini,” kritik Robertho.

Dengan menjadi wakil walikota, tambahnya, bisa saja, Bobby menunjukkan kinerja baik. Kedepan bisa memajukan diri sebagai walikota atau gubernur sekalipun. Diungkapkannya pula, kaderisasi politik/jabatan walikota juga sudah barang tentu melihat kemampuan/pengalamannya sehingga dapat meminimalisir tekanan politik dari masyarakat.

“Pergeseran jabatan politik dapat dilakukan secara dinamis karena setiap saat jabatan politik bisa mengalami perubahan, apalagi untuk kepentingan penguasa pusat yang dalam hal ini Presiden,” imbuhnya.

Menurut Robertho, jangan justru pencalonan Bobby (termasuk Gibran yang mencalonkan diri sebagai Walikota Solo, red) menjadi batu sandungan bagi Presiden Jokowi.

Dia menegaskan, “Azas manfaat dalam jabatan politik yang dimanfaatkan akan berakibat fatal kepada jabatan tertinggi (Presiden)”.

Saat ini, ujarnya, orang menilai berbeda dengan pencalonan Bobby dan Gibran. Intinya, meskipun sebagai wakil, namun mereka menunjukkan kinerja baik, masyarakat pun akan respek. (RN)