Jakarta, innews.co.id – Pemilihan Presiden 2019 hendaknya sebagai kontestasi politik yang mempersatukan bangsa, bukan jadi ajang memecah belah karena berbeda pilihan.

Hal ini dikatakan Rohaniawan Katolik sekaligus budayawan Franz Magnis Suseno di Jakarta, Senin (5/11).

Menurutnya, situasi politik Indonesia saat ini sudah bergeser dari keadabannya, yakni kesantunan. Padahal, perjalanan kompetisi pilpres tidak menimbulkan kompetisi yang negatif seperti politisasi agama.

Hal ini sangat penting karena politisasi isu agama sangat berisiko menimbulkan perpecahan. Isu agama yang memunculkan pertentangan dan intoleransi harus dicegah bersama karena dapat membahayakan Negara Kesatuan RI.

“Jadi tidak perlu perbedaan dan kompetisi politik yang panjang dihubungkan dengan agama. Jadi jangan agama dipolitisasi yang memecah belah dan menebar kebencian. Ini menghilangkan keadaban kesantunan kita sebagai bangsa,” katanya.

Magnis memandang perlunya sosialisasi kampanye damai dalam bentuk dialog umat beragama, dengan tujuan agar menghindari konflik-konflik yang ditimbulkan dari isu agama yang dipolitisasi.

“Karena agama mesti ada unsur damai, dalam perbedaan kita saling menghargai. Tentu kita sekarang menjelang pilpres dengan sendirinya ketegangan-ketegangan dalam masyarakat bisa naik, maka sangat perlu suasana yang sejuk dan positif dan saling percaya antara masyarakat,” tandasnya.

Kontestasi politik lima tahunan diharapkan tak sampai mengganggu kerukunan, persaudaraan, dan persatuan bangsa. Oleh karena itu, semua kontestan dan juga masyarakat diminta   menggunakan politik beradab, sesuai tata krama dan sopan santun berkampanye.

Ajakan politik satun dan beradab disampaikan Presiden Joko Widodo, yang juga calon presiden petahana di Provinsi Banten pada Sabtu (4/11). (RN)