Jakarta, innews.co.id – Saat ini Kongres VII Ikatan Pejabat Pembuat Akta Tanah (IPPAT) yang digugat tengah berproses di Pengadilan Negeri Jakarta Barat. Namun, para Pengurus Pusat (PP) ngeyel, tetap menjalankan roda organisasi, sampai-sampai harus patgulipat mengubah Rapat Kerja Nasional (Rakernas) menjadi Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas).

Banyak pihak mensinyalir agenda Rakornas ada kaitannya dengan upaya menghindari gugatan hukum karena bila menggelar Rakernas dalam posisi digugat tentu melahirkan gugatan baru.

Di sisi lain, ada upaya menghimpun dana dari anggota IPPAT dan ALB dengan menyandingkan upgrading dengan Rakornas. Sehingga biaya upgrading yang dipungut dengan besaran variatif bisa digunakan untuk membiayai Rakornas.

Menurut Tagor Simanjuntak, SH., Juru Bicara IPPAT Peduli Organisasi IPPAT, Senin (25/2/2019), “Kalau baca rancangan acaranya hampir sama dengan materi Rapat Kerja, sepertinya hanya ingin tampil beda untuk cari perhatian”.

Secara kritis Tagor mengatakan, nampak jelas PP IPPAT masih amatiran dan aji mumpung. “Secara tidak langsung ingin memeras anggota, khususnya anggota baru dan ALB. Kalau yang senior-senior sepertinya hanya ingin menikmati suasana Balinya,” tandasnya.

Bicara soal gugatan yang sudah bergulung-gulung mendera IPPAT, baik di pusat maupun daerah, Tagor beranggapan, untuk sementara kita stop dulu karena belum ada konferwil.

“Saat ini sedang tahap pengumpulan data dan bukti berkenaan dengan Tindak Pidana Pemalsuan pasal 21 ayat 5 (i) ART, yang termuat dalam Buku Panduan Kongres IPPAT Makassar, perihal frasa 50+1 tiba-tiba berubah menjadi suara terbanyak. Sementara ketentuan di Pasal 14 ayat 5 AD jo Pasal 17 ayat 16 ART masih tetap 50+1,” ujarnya.

Kepada para PPAT, Tagor menyerukan agar bisa kritis dengan mengedepankan kemanfaatan dari acara tersebut bagi yang bersangkutan dalam menjalankan jabatan secara khusus dan kemanfaatan kepada IPPAT secara umum.

Sementara itu, Julius Purnawan, SH, MSi.,top skor tergugat terbanyak dalam rangkaian gugatan Tim Advokasi PPAT Peduli IPPAT ketika coba dikonfirmasi hanya berkata singkat, “Nanti di Bali ya dijelaskan”. (RN)