Jefry Tambayong, Ketua Umum Nasional GMDM

Jakarta, innews.co.id – Tidak terasa, 10 tahun atau satu dasawarsa sudah Badan Koordinasi Nasional (Bakornas) Gerakan Mencegah Daripada Mengobati (GMDM) menggelorakan perang terhadap narkoba. Sejumlah prestasi gemilang telah ditorehkan, meski di sisi lain peredaran narkoba masih masif, namun upaya memerangi tak jua surut.

Ditemui di Kantor Bakornas GMDM, Jefry Tambayong, Ketua Bakornas GMDM mengatakan, selama 10 tahun GMDM hadir menjadi garam dan terang bagi masyarakat Indonesia dalam upaya memerangi narkoba. “Kita bersyukur GMDM sudah memiliki cabang di hampir seluruh Indonesia,” ujar Jefry.

Di usianya ke-10, GMDM mengusung tema “Bersatu Wujudkan Indonesia Bersinar”.

Dikatakan Jefry, kita melakukan perenungan dan evaluasi menyeluruh bagaimana kiprah GMDM selama 10 tahun ini. “Memang masih ada kekurangan, tapi itu tentu akan terus kita benahi guna lebih memaksimalkan pelayanan kepada masyarakat Indonesia,” tandas Jefry.

Infrormasi terbaru, di bulan Juni lalu, Jefry sendiri dilantik menjadi Ketua Forum Organisasi Kemasyarakatan Anti Narkoba (FOKAN). Wadah ini merupakan payung bagi seluruh organisasi anti-narkoba di Indonesia. Tercatat ada 35 organisasi yang bernauh dibawah Fokan.

Konsisten

Konsistensi GMDM sudah tidak lagi diragukan. Hanya saja disayangkan upaya memerangi narkoba ini tidak didukung sepenuhnya, utamanya oleh pihak swasta. “Harusnya tiap-tiap perusahaan bisa mengalokasikan budgetnya untuk upaya pencegahan dan pemberantasan narkoba,” imbuh Jefry. Sayangnya, selama ini ibarat panggang jauh dari api.

Diakuinya, sangat sedikit perusahaan yang mau terlibat dalam gerakan anti-narkoba. Ke depan, harusnya ada lebih banyak perusahaan yang care terhadap upaya pemberantasan narkoba di Indonesia.

Hal lain yang patut dikritisi adalah soal kemungkinan melakukan amandemen terhadap UU No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Di situ, kata Jefry, tidak dijelaskan spesifik mana yang harus dihukum, mana yang harusnya dilakukan pemulihan di lembaga rehabilitasi dan sebagainya. Padahal, sudah ada SEMA No. 3 tahun 2011. “Jangan justru membuat celah di mana penanganan kasus narkoba bisa bermain uang. Kalau tidak punya, maka akan langsung ditahan, padahal tidak harus demikian,” ungkapnya.

GMDM komitmen untuk terus berjuang memerangi narkoba

Sekarang ini, ujarnya, bandar besar yang dipenjara paling baru 20 persen, selebihnya adalah pemakai yang harusnya direhabilitasi. Karena penjara bukan jalan keluar menyadarkan seseorang. Hal itu sudah disampaikan Jefry di Lemhanas.

Demikian juga, Jefry menilai, belum terintegrasinya semua stakeholder yang terkait dengan anti-narkoba. “Harus ada kerangka acuan secara nasional apa dan bagaimana yang bisa dilakukan dalam rangka pencegahan dan pemberantasan narkoba,” usulnya.

TOT Narkoba

Kalau pun Presiden RI Joko Widodo kerap menggaungkan ‘Indonesia Darurat Narkoba’, namun grand design programnya yang lebih konkrit belum ada.

Peredaran masif

Jefry mengakui peredaran narkoba di Indonesia masih masif. Perlu melibatkan organisasi kemasyarakatan karena keterbatasan tenaga di kepolisian dan BNN. “Selama ini TAT (Tim Assesment Terpadu) telah bekerja keras, namun keterbatasan sumber daya manusia membuatnya seperti tidak maksimal,” urai Jefry.

Lebih jauh Jefry menerangkan bahwa pihaknya berencana pada Oktober 2018 ini dalam rangka Hari Sumpah Pemuda, akan menggelar even akbar di Bali yang akan mengumpulkan anak-anak muda dari berbagai negara di dunia untuk duduk bersama membahas soal terorisme, perdagangan manusia, korupsi, dan narkoba.

Di akhir perbincangan Jefry Tambayong mengingatkan agar masyarakat Indonesia sadar betul akan bahaya narkoba. “Narkoba ini sesuatu yang mematikan. Ingat, Negeri Tirai Bambu, China pernah hancur lantaran perang candu. Kalau kita tidak bergerak, bukan tidak mungkin hal serupa akan terjadi pada Indonesia. Kita bisa lost generation,” ucapnya kritis.

Oleh karena itu, penting setiap keluarga mengedukasi keluarganya sendiri tentang bahaya narkoba. “Kalau ada yang mulai aneh-aneh dalam keluarga segera laporkan untuk dilakukan tes urin. Demikian juga tokoh masyarakat dan tokoh agama gencar mengkampanyekan perang terhadap narkoba. Jangan keburu banyak jatuh korban baru kita seperti kebakaran jengggot,” tuturnya.

GMDM dapat penghargaan MURI

Sementara itu kepada pemerintah disampaikan, Indonesia Darurat Narkoba jangan hanya jadi slogan semata. “Buatlah model yang terintegrasi kepada seluruh stakeholder dalam perjuangan bersama,” tukasnya. (RN)