Wajah Monas yang tampak gersang

Jakarta, innews.co.id – Monumen Nasional (Monas) yang menjulang tinggi adalah milik bangsa Indonesia, bukan milik Gubernur DKI dan kelompoknya semata. Merupakan simbol perjuangan bangsa yang merdeka, bebas dari penjajahan.

Karenanya, revitalisasi Monas hanya dalih untuk menggerus sejarah bangsa. Hanya upaya mengeruk keuntungan dengan mengabaikan simbol-simbol perjuangan rakyat.

Karena merasa miliknya, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan merasa tidak perlu berkonsultasi dengan Pemerintah Pusat. Baginya, langsung babat, habis perkara!

Putri Simorangkir Ketua Save Jakarta, geram dengan tindakan Anies Baswedan

Menurut Putri Simorangkir Ketua Save Jakarta (#SaveJakarta) dalam perbincangan dengan innews di Jakarta, Rabu (22/1/2020), banyak warga Jakarta merssa tercabik nuraninya melihat Taman Monas yang kini gundul”.

Putri mengisahkan, dulu Presiden pertama RI Soekarno menggagas pendirian Monas lantaran dalam hatinya ingin mengabadikan kegigihan perjuangan bangsa Indonesia dalam memperoleh kemerdekaan, bebas dari penjajahan Belanda.

“Dulu, Soekarno berharap Tugu Monas menjadi ikon atau landmark Indonesia, layaknya Menara Eiffel di Paris atau Patung Liberty di Amerika Serikat. Karena itu, Monas sengaja ditempatkan tepat didepan Istana Negara,” urai Putri.

Dimintalah Ir. Frederich Silaban dan RM Soedarsono menjadi arsitek yang mendesain serta membangun Monas, mulai 17 Agustus 1961 dan diresmikan tahun 1975 serta dibuka untuk umum.

Lanjut Putri menjelaskan, lambang 17-8-45, dimasukkan kedalam bangunan tugu Monas yang megah dengan api semangat bangsa berlapis emas di puncaknya. Dilengkapi dengan museum perjuangan para pahlawan didalamnya dimaksud untuk mengingatkan generasi penerus bangsa akan perjuangan para pahlawan.

Namun yang terjadi sekarang, peninggalan momumental tersebut lagi diacak-acak. Pohon-pohon yang sudah ditanam puluhan tahun ditebang begitu saja. “Harusnya pemimpin Jakarta membuat peninggalan ini menjadi semakin menarik dan megah karena ikon ini menyatu dengan Istana Negara, sekaligus menjadi kehormatan bangsa dan negara di mata internasional,” cetus Putri.

Dengan geram, Putri berujar, sebagai warga yang mencintai Jakarta dan Indonesia, kami tidak rela dan mengijinkan wilayah kebanggaan dan kehormatan seluruh bangsa diobrak abrik seperti itu. Mengurangi, bahkan menghilangkan nilai-nilai patriotisme serta memori indah perjalanan bangsa dan menjadi peringatan bahwa bangsa ini pernah memiliki Bapak Proklamator dan Presiden yang mumpuni, yakni Bung Karno.

Karena itu, Putri dengan tegas meminta Gubernur DKI mengurungkan niatnya merevitalisasi Monas, apalagi hanya untuk ajang Formula E. “Sangat menggelikan. “Saat ini saja, Monas sudah rusak. Untuk menumbuhkan pohon-pohon kembali butuh waktu yang tidak sebentar. Apalagi tindakan sepihak Gubernur DKI dinilai cacat hukum, karena harusnya berkonsultasi dengan Pemerintah Pusat lebih dulu,” tukas Putri.

Bung Karno pernah berpesan, “Bangsa yang besar selalu mengingat jasa pahlawannya”. (RN)