Dr. H. Serian Wijatno (kiri) saat mendampingi Presiden Joko Widodo pada Perayaan Imlek Nasional di ICE BSD, beberapa waktu lalu

Jakarta, innews.co.id – Sejak diizinkan pertama kali, tahun 2000, Perayaan Tahun Baru Imlek kian terbuka di Indonesia. Ini menjadi sinyal bahwa Indonesia sangat menghargai perbedaan, bahkan menjadikannya sebagai kekuatan bangsa.

Apresiasi dan dukungan besar kepada pemerintah disampaikan Dr. H. Serian Wijatno, warga bangsa keturunan Tionghoa yang juga Sekretaris Dewan Masjid Indonesia dalam perbincangan dengan innews, Minggu (9/2/2020). Menurutnya, perayaan Imlek saat ini sudah sangat baik dengan adanya dukungan dari pemerintah dan masyarakat.

Serian Wijatno (kedua dari kiri) ikut menjemput Presiden Joko Widodo pada Perayaan Imlek Nasional 2020 di ICE BSD, Tangerang, beberapa waktu lalu

Serian mengisahkan, Imlek adalah tradisi dan budaya. Imlek berakar pada sebuah mitologi kuno. Awalnya merupakan sebuah perayaan yang dilakukan oleh para petani di Tiongkok dengan memasang ornamen-ornamen berwarna merah yang merupakan sebuah simbol untuk menjauhkan hewan mitologi bernama Nian dari lingkungan manusia, karena nian tersebut memakan hasil panen.

Dalam dialek Hokkian, imlek berarti Kalender Lunar yang sudah dipakai sejak lama, sehingga istilah Imlek dapat dikatakan otentik.

Imlek, kata Serian, esensinya adalah merubah, memperbaiki atau menggantikan dengan yang baru, dan membuang yang usang. “Memperbaiki rumah, membersihkan, menggantikan bagian yang rusak dengan yang baru, serta memasang kaligrafi dan ornamen Imlek,” menjadi sebuah kebiasaan dalam tradisi Imlek.

Serian Wijatno mendampingi Presiden Joko Widodo saat memberikan angpao kepada barongsai pada Perayaan Imlek Nasional 2020 di ICE BSD, Tangerang

Makna lainnya, lanjut Wakil Ketua Yayasan Agung Podomoro Land ini, agar kita merubah pola pikir, pendirian, tabiat, dan sifat kebiasaan lama yang keliru, kurang sesuai atau salah, dengan yang baik, lebih sesuai dan mutakhir. Inilah makna yang sebenarnya untuk menyambut tahun baru Imlek.

Imlek juga mengusung makna persatuan, keharmonisan, dan kecintaan. “Saat Imlek, biasanya baik keluarga maupun kerabat akan berkumpul bersama menjadi satu tanpa menghiraukan suku, agama, ras dan golongan,” kata Serian yang pernah menjabat sebagai Bendahara PB-PBSI selama 20 tahun ini.

“Malam menjelang Tahun Baru Imlek adalah momentum yang penting untuk reuni keluarga orang Tionghoa. Hal lain adalah pulang kampung atau menemui keluarga yang dituakan, untuk makan malam bersama dan menyambut datangnya tahun baru Imlek,” urai Serian yang selama 18 tahun pernah aktif di pengurus Yayasan Tarumanagara, dan terakhir sebagai Ketua Pengurus hingga tahun 2012 ini.

Serian Wijatno bersama Nadiem Makarim Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI dalam Perayaan Imlek di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI

Lebih jauh Serian mengatakan, perayaan Imlek dapat dirayakan oleh semua orang tanpa memandang suku, ras, agama, dan golongan tertentu. Imlek juga mengajarkan persatuan, kerukunan umat dan penghargaaan yang tinggi antar-sesama manusia.

Dalam pandangannya, perayaan Imlek saat ini sudah sangat baik dengan adanya dukungan dari pemerintah dan masyarakat. “Seperti yang sama-sama kita ketahui, sudah 2 tahun ini kami dapat merayakan imlek bersama-sama secara nasional, bahkan dihadiri masyarakat dari berbagai suku dan agama hadir,” imbuh Serian yang pernah menjabat sebagai Direktur Utama Rumah Sakit Royal Taruma ini.

Karena itu, mantan Presiden Direktur Adira Quantum Finance Tbk ini berharap, agar budaya ini terus menerus dilestarikan dan dijaga sebagai momen mempererat antara kita semua dan saling mencintai antar-umat dalam satu persaudaraan. (RN)