DR. John N. Palinggi, MBA., pemerintah memberi perhatian lebih pada Papua

Jakarta, innews.co.id – Ada pertimbangan dan alasan yang kuat dari pemerintah saat memutuskan memindah Ibu Kota. Semua sudah dipersiapkan, dikaji, dan dipertimbangkan dalam segala aspek.

Ini pikiran yang besar. Harus diingat, tidak akan mungkin seseorang mendapatkan sesuatu yang besar kalau pemikirannya kecil.

Penegasan ini disampaikan pengamat politik dan sosial kemasyarakatan kondang DR. John N. Palinggi, MM., MBA., saat bicara tentang rencana pemindahan Ibu Kota, di ruang kerjanya yang nyaman di bilangan Jakarta Pusat, Senin (16/9/2019).

“Kita bersyukur Presiden Joko Widodo adalah pemimpin yang punya sikap jelas dan tegas serta tidak mudah diombang-ambing oleh perkataan orang. Nalurinya begitu tajam dalam menganalisa sesuatu hal,” kata John Palinggi.

Pemerataan pembangunan, lanjut John, bisa jadi salah satu alasan pemindahan Ibu Kota. “Dengan pindahnya Ibu Kota, maka pembangunan tidak lagi bertumpu di Pulau Jawa saja, daerah lain pun akan terperhatikan ” ungkap John.

Dijelaskan, masyarakat di Kalimantan sangat menghargai perbedaan. Heterogenitas tinggi, maupun diimbangi dengan toleransi yang kuat. Karena itu, untuk hubungan antar-individu tidak ada masalah. Disamping itu luas lahan yang sangat besar, airnya bagus, bebas gempa, dan lainnya.

Bila Ibu Kota pindah, maka akan banyak lahir peluang-peluang usaha yang bisa dikembangkan mulai dari sektor UMKM sampai bisnis skala besar.

Di Ibu Kota baru nanti, lanjut John, juga akan tumbuh pusat-pusat bisnis baru. Itu artinya, investor akan datang. Ditambah lagi, di Kalimantan terdapat berbagai bisnis strategis, seperti minyak dan gas bumi, pertambangan, dan sebagainya.

Intinya, John meminta rakyat Indonesia mendukung rencana pemindahan Ibu Kota karena sudah tepat. “Jangan justru dicemooh atau dicaci maki dan diberitakan yang enggak-enggak,” kata John.

Diakuinya, Jakarta sudah tidak lagi kondusif untuk jadi Ibu Kota. Kemacetan parah, banjir, dan kekumuhan masih jadi potret Jakarta. “Anehnya lagi, ada orang yang digaji, tapi tidak sanggup membenahi Jakarta,” tukasnya. (RN)