Vonny Pawaka (kiri) dan Sri Dewi Riniyasti curhat mengenai Kongres INI

Jakarta, innews.co.id – Para notaris tidak lagi bicara soal siapa yang keluar sebagai pemenang pada Pemilihan Ketua Umum Ikatan Notaris Indonesia (INI), namun sistem e-voting yang diterapkan masih terasa mengganjal.

Seperti disampaikan Sri Dewi Riniyasti, SH., MKn., Notaris Gowa dalam sebuah kesempatan di Hotel Pullman, Jakarta, Senin (20/5/2019) malam.

Menurut Dewi, sistem e-voting bagus asal ada sosialisasi yang komprehensif dan para notaris sudah paham cara menggunakannya. “Harusnya sistem e-voting diujicobakan dulu di tiap daerah jelang kongres. Bukan tiba-tiba langsung diimplementasikan di kongres,” ujarnya.

Perlu dipertanyakan kepada panitia atau PP INI langsung menerapkan sistem tersebut, sementara masih banyak anggota yang tidak mengerti.

Selama ini, lanjut Dewi, PP hanya ngomong kemana-mana bahwa pemilihan menggunakan sistem e-voting, tapi gambarannya bagaimana tidak diberi tahu.

Tak heran, sikap tertutup seperti ini menimbulkan kecurigaan bahwa sistem ini sengaja didesain untuk memuluskan langkah petahana.

Dewi juga gregetan soal tidak adanya transparansi jumlah anggota INI yang ikut kongres. “Harusnya panitia transparan,” tandasnya.

Anehnya lagi, jumlah peserta sedikit, rasanya pakai sistem manual juga bisa. Kecuali kalau pas Kongres PPAT yang dihadiri lebih dari 4.000 orang, mungkin terlalu lama kalau pakai sistem manual.

Sementara itu, Vonny Pawaka, SH., M.Kn., notaris lainnya ikut menimpali. Menurutnya, kalau pakai e-voting harusnya pemilihan terbuka. “Dimana pun orang harusnya bisa memilih. Ngapain harus buang-buang uang ke Makassar. Ini kan sudah tidak benar,” timpalnya.

Baik Dewi maupun Vonny sepakat pemakaian sistem e-voting ada kesan dipaksakan dengan tujuan tertentu.

Ke depan, kata keduanya, PP INI harus membumi dan mau mendengarkan suara anggota. Jangan memaksakan sesuatu hal yang menurut anggota kurang tepat. (RN)

Hosting Unlimited Indonesia