Jakarta, innews.co.id – Perhelatan Kongres XXIII Ikatan Notaris Indonesia (INI) telah usai. Kini saatnya bersama membangun INI kembali. Kalau pun ada hal-hal yang masih harus dibenahi, itu akan diperhatikan sehingga ke depan bisa lebih baik lagi.

Penegasan ini disampaikan Taufik, SH., Ketua Bidang Organisasi PP INI periode 2016-2019 saat ditemui di kantornya di Jakarta, Senin (6/5/2019).

Dari sisi minimnya peserta kongres, Taufik menilai, menurut database yang ada jumlah anggota INI 16.000 lebih. Namun, itu belum terverifikasi kembali. Masih banyak data-data anggota, misal sudah pensiun atau meninggal yang belum dihapus.

Diakuinya, jumlah peserta kongres memang kisarannya sejumlah itu. Paling banyak saat Kongres di Palembang yang mencapai 2.000 lebih peserta.

“Data-data banyak di Pengda dan belum semuanya diberikan ke pusat,” ujarnya.

Bicara tentang e-voting, Taufik kurang sependapat bila dikatakan aplikasinya tertutup. “Lebih pas dikatakan e-voting terbatas karena pelaksanaannya hanya di kongres. Itu juga karena sesuai amanat AD/ART, di mana pemilihan hanya dilakukan dalam kongres.

Pelaksanaan e-voting sudah direncanakan sejak 2015. Namun, karena belum bisa diimplementasikan pada Kongres 2016, baru sekarang diterapkan.

“Ini juga desakan dari pengda dan pengwil. Mungkin berkaca pada Kongres IPPAT yang terkesan terlalu memakan waktu lama,” urainya.

Dalam mencari system development, menurut Taufik, juga dipilih yang capable. Memang diakui belum ada sertifikat Kemenkominfo, tapi untuk perusahaan yang mendevelop sistem ini cukup SIUP Perusahaan yang bersangkutan saja, karena sifatnya lokal, hanya organisasi, bukan publik seperti bibli, lazada, dan sejenisnya.

Dikatakannya, ke depan semoga bisa diterapkan sistem pemilihan secara menyeluruh. Jadi semua anggota INI bisa ikut memilih.

Dulu, di INI diterapkan sistem pemilihan dengan perwakilan. Baru 2005 diterapkan sistem pemilihan langsung. “Model-model seperti ini akan dikaji untuk dicari formula yang pas untuk INI,” jelas Taufik.

Taufik menampik bila dikatakan ada rekayasa terhadap sistem e-voting. “Kalau sudah pakai sistem seperti ini rasanya tidak mungkin direkayasa,” ujarnya seraya mengatakan sistem ini bisa dipertanggungjawabkan.

Riuh redam

Taufik mengakui suasana riuh redam saat proses pemilihan. Namun baginya itu adalah proses demokrasi. “Memang ada anggota yang berusaha naik ke meja presidium, itu sama sekali tidak boleh. Itu yang diminta turun. Tapi tidak sampai dorong-dorongan.

Pernyataan ini berbeda dengan yang diungkapkan Otty Ubayani yang menegaskan sempat terjadi dorong-dorongan, bahkan ada peserta diusir ke luar ruangan. Bahkan, almarhum Eyota Madius, kata Otty, juga sempat terjatuh karena didorong-dorong.

Taufik menambahkan, sebenarnya secara tekhnis tidak boleh ada perubahan saat kongres. Karena itu sudah dikaji saat Prakongres. “Jangan mencoba merubah tata tertib. Karena artinya itu kembalinke awal lagi dan kongres berpotensi batal,” tandasnya.

Meski begitu, lanjut Taufik, kongres sudah usai. “Kita berharap sudah tidak ada lagi kubu-kubuan. Mari bersama kita mendukung kepengurusan INI yang ada,” tukasnya. (RN)

Hosting Unlimited Indonesia