Jenazah Eyota Madius diturunkan ke liang lahat

Jakarta, innews.co.id – Sampai kini, masih menjadi tanda tanya besar meninggalnya Eyota Madius, SH., M.Kn., dalam pelaksanaan Kongres XXIII INI di Makassar, 30 April – 1 Mei 2019.

Banyak berita yang beredar seputar apa penyebabnya. Menurut beberapa sumber di lapangan, sebelum meninggal, almarhum sempat ikut kongres. Karena tidak terima dengan sikap Presidium yang mengabaikan suara anggota, maka ia sempat memprotes. Karena didorong-dorong, Eyota pun terjatuh.

Jenazah Eyota Madius dimakamkan di TPU dekat kediamannya

Mungkin karena dadanya sakit, ia memutuskan naik ke kamar. Di kamar, ia sempat menghubungi pihak hotel dan meminta dipanggilkan tukang urut.

Selesai diurut, Eyota tak sadarkan diri. Sontak tukang urut menghubungi pihak hotel dan langsung melarikan Eyota ke rumah sakit. Namun, nyawanya tidak tertolong.

Bagi Otty, bukan tempat ia meninggal yang jadi dasar, tapi harus dicari tahu apa penyebab meninggalnya. “Ada yang mengatakan karena kecapekan karena menempuh perjalanan jauh dari Bengkulu, tapi itu bukan alasan rasanya. Justru jatuhnya Bang Eyota, menurut saya yang jadi penyebab,” tegas Otty.

Otty Ubayani khusuk berdoa di depan jenazah Eyota Madius di rumah sakit

Pasca meninggalnya Eyota, panitia langsung menggelar jumpa pers, Rabu (1/5/2019) dan menyatakan, “Almarhum sempat sarapan di hotel dan melakukan registrasi sebagai peserta dan mengikuti kongres. Setelah isoma, Eyota Madius kembali ke kamarnya karena merasa tidak enak badan,” kata Ahmad Yulias, Ketua SC, yang dirilis dari media lokal.

Selanjutnya dibawa ke RS Islam Faisal. Sekitar pukul 17.15 Wita almarhum dinyatakan meninggal oleh dokter,” jelasnya.

Selanjutnya, kata Ahmad, pihak RS menghubungi keluarga almarhum di Bengkulu dan diperoleh informasi bahwa memang ada riwayat jantung. “Itu informasi akurat yang kami dapatkan dari petugas hotel,” katanya.

Ditambahkan, tidak benar almarhum meninggal di ruangan kongres. “Saya luruskan bahwa sejak kongres dibuka mulai pagi sampai ada berita ada yang meninggal dunia. Kebetulan saya selaku pimpinan sidang tetapi tidak satu pun saya melihat ada orang yang bermasalah dengan kesehatan. Tidak ada yang pingsan, dibopong apalagi sampai meninggal dunia di dalam ruangan kongres,” katanya.

Sementara itu, Taufik SH., Ketua Bidang Organisasi PP INI periode 2016-2019 mengatakan, konon kabarnya sebelum ke tempat acara almarhum sempat pergi ke Tanah Toraja, baru ke lokasi acara. Jadi, faktor keletihan begitu besar, ditambah almarhum juga punya riwayat penyakit jantung

Otty menampik hal tersebut, pasti ada sebab akibatnya. “Harusnya panitia bertanggung jawab. Jangan mau cuci tangan saja atau mau menutup-nutupi. Sampai melarang peserta memviralkan persoalan ini,” ujarnya.

Untuk lebih jelasnya, ada baiknya melihat CCTV di tempat acara. Apakah benar Eyota jatuh di tempat acara atau tidak. Karena faktanya, banyak orang yang jatuh karena terdorong-dorong. Ada yang dadanya sakit dan sebagainya.

Ditambahkan Otty, Presidium begitu otoriter dan tidak mau mendengarkan suara anggota. Intinya, lanjut Otty, Kongres INI kali ini adalah yang terburuk. (RN)