Jakarta, innews.co.id – Potret perjuangan seorang Ratna Sarumpaet dalam melawan ketidakadilan semasa muda masih terekam jelas di benak Tendy Irianto, pengamat sosial politik ternama yang juga tokoh masyarakat.

Di rezim Soeharto, kata Tendy, perjuangan Ratna membela kaum teraniaya begitu kental diiringi gayanya yang ceplas-ceplos dan bicaranya nan lantang.

Namun, akhir-akhir ini, idealisme Ratna seperti tergadaikan. “Bisa jadi karena uang atau salah bergaul, dan mulai pikun,” kata Tendy.

Tendy Irianto (kiri) bersama Kakak tersayang Tuty

Bagi Tendy, sudah seharusnya Ratna pensiun di usianya yang ke-70. Karena faktanya, seringkali tidak akurat kalau berkomentar, bahkan cenderung ngaco.

Namun, Tendy menilai, tuntutan ego dalam diri Ratna yang haus dan selalu membutuhkan sensasi dan berita-berita di media membuatnya akhirnya kehilangan visi awalnya yaitu, membela yang lemah dan teraniaya.

Bahkan, dalam pengamatan Tendy yang tajam ditemukan ada upaya mencoba bersaing karakter dengan Presiden Jokowi yang kalau dicermati sesungguhnya mempunyai visi sama dengan Ratna yaitu, membela kaum lemah.

Kesalahan terbesar Ratna, menurut Tendy, isu negatif soal karakter yang ditujukan kepada Jokowi yang sederhana dan sangat peduli kepada masyarakat kecil, justru menjadi bumerang baginya dan kelompoknya.

“Lebih bijak Ratna pensiun atau memilih bergabung dengan pemerintahan Jokowi sehingga bisa membantu mensosialisasikan program pemerintahan yang bersih dan amanah, bukan malah selalu memposisikan menyerang pemerintah.

Ratna, kata Tendy, seringkali membabibuta dan selalu berkomentar negatif kepada setiap hal yang terkait dengan pemerintahan Jokowi, tanpa data dan tanpa research.

“Mungkin Ratna mau menyaingi Jokowi. Atau mungkin ada kelompok yang mendorongnya untuk melakukan itu? Saya tidak tahu persis,” tukasnya serius.

Selain itu, di usianya yang senja, harusnya Ratna lebih mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa melalui agamanya.

Jadi pion

Lebih jauh Tendy mengatakan, “Bukan tidak mungkin Ratna di-setting sebagai pion oleh kelompok tertentu yang memang sedang giat-giatnya melakukan serangan-serangan menjelang pilpres. Apalagi melihat fenomena politik saat ini. Segala cara dilakukan asal bisa menang. Karena peluangnya tidak banyak. “Kita akan melihat nanti hasil dari penyelidikan kepolisian,” ucap Tendy.

Ditanya soal banyaknya orang tertipu, bahkan sampai Prabowo-Sandi, anggota DPR, dan lainnya, menurut Tendy, ini bukan karena ketidakmampuan mencermati hoaks, tapi kasus Ratna ini dilihat sebagai peluang untuk menaikkan elektabilitas lawan Jokowi.

“Bahkan permintaan maaf dari Prabowo diartikan bahwa ia adalah korban semata,” imbuhnya.

Kegilaan ambisi

Menurut saya, sambung Tendy, dengan kejadian ini memberikan masyarakat suatu perspektif mengenai kondisi karakter para pemimpin elit politik yang tidak memiliki sikap arif bijaksana, cenderung emosional, impulsif, irasional, menggebu-gebu, gegabah dalam mengambil sikap, dan sembarangan berkomentar. Itulah gambaran nyata para elit kita saat ini.

Tidak itu saja, Tendy yang juga seorang pengusaha sukses dan low profile ini menangkap ada “kegilaan” ambisi yang tak terkendali, tersembunyi dalam pribadi masing-masing. Itu akan terus terlihat dalam kehebohan pilpres ini sampai selesai nanti.

Ini persis seperti perkataan Albert Einstein: “The definition of insanity is doing the same thing over and over and expecting different results”.

Tendy berharap kaum milenial dan generasi muda bisa merasakan kebutuhan mendesak pada kepemimpinan nasional akan adanya pemimpin muda dan bijaksana yang akan meneruskan Jokowi nantinya. Dan dapat melihat dengan kasat mata apa yang sedang berlangsung dalam kontestasi Pilpres dan Pileg ini.

Lebih dari itu, Tendy secara khusus meminta pihak kepolisian untuk menindak semua pihak yang terlibat dalam kasus Ratna Sarumpaet sesuai dengan peraturan yang berlaku.

“Apabila ada indikasi kejadian ini hasil settingan pihak tertentu, itu juga harus diproses. Semua pihak yang terkait dengan masalah ini harus dituntaskan,” seru Tendy lantang.

Tendy meyakini Presiden Jokowi sekarang ini tengah disibukkan oleh berbagai tragedi akibat bencana alam. Meski begitu, oleh kelompok seberang, Presiden Jokowi dinilai tidak memperdulikan masalah ini.

Butuh keteladanan

Tendy melanjutkan, “Masyarakat kita sangat membutuhkan keteladanan seorang pemimpin. Semenjak era Soeharto hingga SBY tidak ada keteladanan dalam pembangunan karakter bangsa (nation building character)”.

Memang, kata Tendy, harus diakui bahwa kita masih tertinggal dalam mentalitas dan jiwa kritis dibandingkan dengan bangsa lain yang lebih maju. Padahal Indonesia terkenal dengan keramahtamahannya. Kelemahan itu dimanfaatkan oleh kelompok elit yang haus kekuasaan. Tidak adanya upaya memeriksa suatu isu, cek dan ricek, apalagi masalah SARA, menjadi kelemahan yang kentara.

“Masyarakat kita sangat melankolis kalau melihat sesuatu yang tidak adil, reaksinya pun sangat tidak terduga. Ini menjadi tugas para elit politik, pemimpin agama, dan tokoh masyarakat untuk memberikan pencerahan bagi masyarakat. Bukan sebaliknya, malah menggoreng berita hoaks dan mengambil keuntungan bagi dirinya atau kelompoknya. Mengambil kesempatan dan mengorbankan masyarakat,” kata Tendy tak mampu menyembunyikan kekecewaannya melihat perilaku segelitir elit politik negeri ini.

Kepada seluruh masyarakat, Tendy meminta untuk selalu melakukan cek dan ricek bila mendapat sesuatu berita. Jangan langsung men-share hal-hal yang belum tahu kebenarannya.

“Pikirkan baik-baik bahwa persatuan bangsa harus diatas segalanya, dari pada hanya sekadar menyebar berita bohong. Pikirkan apa efeknya pada masyarakat yang lain bila kita turut menyebar berita yang belum jelas kebenarannya,” sarannya.

Ditambahkannya lebih baik mencari nasihat bijaksana yang memberikan semangat dan motivasi dan menyebarkannya sebagai amal ibadah kita kepada bangsa ini.

“Kalau ada berita-berita yang menghina sesama anak bangsa atau berpotensi menimbulkan efek negatif, sebaiknya delete atau stop sampai di diri sendiri saja. Dan tetap waspada agar tidak kesetanan seperti pengakuan Ratna,” ujar Tendy menutup perbincangan. (RN)