Bogor, innews.co.id – Gerakan people power hanya dilakoni oleh segelintir orang-orang bayaran saja. Karena mayoritas rakyat justru sangat bangga dan puas dengan kepemimpinan Presiden Jokowi. Terbukti Jokowo terpilih kembali dengan suara mayoritas secara konstitusi.

Penegasan ini disampaikan pengamat sosial politik Tendy Irianto ketika ditanya innews, Minggu (19/2/2019) siang, mengenai gerakan yang kabarnya akan muncul saat pengumuman hasil Pemilu Serentak 2019 oleh KPU.

“Saya yakin dan percaya tidak akan membawa dampak apa pun, karena digerakkan dan di kumandangkan oleh orang-orang yang tidak memiliki kredibilitas, karisma dan reputasi yang baik dinegara ini. Bahkan saya melihat, people power cenderung menjadi bahan olok-olokan saja di sosial media,” kata Tendy.

Tendy Irianto yakin aparat keamanan akan bekerja profesional, memberi keamanan kepada masyarakat

Lebih jauh Tendy mengatakan, mencuatkan istilah people power justru membuat beberapa petinggi BPN (Paslon 02) ditangkap dan dikenai pasal makar.

“People power yang dilontarkan Amien Rais, saya yakin hanya asbun (asal bunyi) saja. Sangat disayangkan orang sepuh seperti Amien Rais sering sekali berbicara terbuka secara serampangan dan kontraversial dan tidak menjadi teladan bagi masyarakat,” keluh Tendy.

Dia menjelaskan, istilah people power merupakan kekuatan masyarakat untuk menggulingkan pemerintahan yang sah dan zolim kepada masyarakat yang teraniaya. Sementara banyak rakyat Indonesia justru senang dengan kinerja Pak Jokowi.

Lebih jauh Tendy menerangkan, tujuan manusia berpolitik hanya satu, untuk berkuasa dan melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi bangsa dan negara.

“Arti kata politik (politea) adalah mencapai tujuan dengan cara-cara mulia. Tetapi pada kenyataannya kita lihat elit politik bahkan pemimpin parpol melakukan praktek tercela dan tidak terhormat. Segala cara dipakai untuk mencapai tujuannya, seperti hoaks, fitnah, cemoohan, sumpah serapah, dan arogansi. Bahkan agama dibawa-bawa untuk melengkapinya,” urai Tendy.

Dia menambahkan, bukan saja tidak dewasa, tetapi mempertontonkan kemunafikan dan sikap yang bertolak belakang dari sikap negarawan.

“Seorang pemimpin hanya di ukur oleh satu hal saja, kerelaan hatinya untuk melayani dan bekerja keras. Dan masyarakat kebanyakan sudah paham bahwa menggunakan narasi ‘people power’, hanyalah sikap frustasi mereka alias gertak sambal saja.(RN)