Jakarta, innews.co.id – Ternyata bukan hanya Lumina Tower yang bermasalah, Apartemen Kuningan Place yang terdiri dari 2 tower yakni, Infinia dan Ultima juga menyimpan bom waktu persoalan yang tak kunjung tuntas. Para penghuni kedua tower tersebut dililit banyak masalah yang muaranya membuat mereka merugi.

Dari penelusuran innews, ditemukan sedikitnya ada 4 persoalan yang mengemuka yang dikeluhkan sejumlah penghuninya yakni, belum diberikannya Akta Jual Beli (AJB) atau sertifikat meskipun penghuni sudah melunasi pembayaran apartemen, belum adanya Perhimpunan Penghuni Rumah Apartemen (PPRA), saat ini masih ditangani pihak PT Kemuliaan Megah Perkasa (KMP) yang sejak awal dipimpin oleh Yusuf Valent dan Indri Gautama, model denda berlapis yang membuat konsumen merasa seperti dijebak hutang selangit, dan disinyalir telah terjadi pembelian bawah tangan.

Seperti dikemukakan Ling Ling (nama samaran), salah satu penghuni kepada innews, di Jakarta, Senin (21/10/2019) malam, “Saya sudah melunasi pembayaran pada 2008 tapi sampai sekarang belum mendapatkan AJB/Sertifikat”. Hal senada dikatakan Yanti (nama samaran) yang mengaku sudah melunasi pembayaran dan menerima kunci unit pada 2009, namun sampai kini tidak diberikan AJB/Sertifikat. Padahal, mereka sudah dibebankan service charge dan sinking fund.

Ling Ling mengaku sudah mempertanyakan soal AJB/Sertifikat ke pihak pengelola, tapi jawabannya hanya lagi diurus. “Ini sudah 10 tahun, masak belum jadi-jadi juga,” sergah Ling Ling.

Demikian juga Ling Ling punya pengalaman mundur 2 hari dari pembayaran karena saatnya jatuh tempo pada hari Sabtu. “Saya sudah menyurati pengelola dan menghubungi soal keterlambatan dan disetujui. Ternyata, saya tetap dikenakan denda Rp1 juta yang dikemudian hari membengkak jadi Rp15 juta,” urai Ling Ling.

Pengalaman serupa juga dialami Yanti yang mengaku unit apartemen yang dimilikinya tidak bisa dijual karena selain belum memiliki AJB/Sertifikat, juga oleh pengelola diklaim dirinya harus melunasi denda, yang awalnya hanya Rp9 juta, tapi sudah melangit menjadi Rp150 juta tahun 2014, mungkin sekarang sudah lebih besar lagi. Penjualan unit harus melalui pengelola (KMP).

Demikian juga KMP semena-mena menaikkan biaya service charge dan sinking fund yang memberatkan penghuni. “Kenaikan diinfokan bulan ini, tapi dalam penagihan, kenaikan itu sudah terjadi sejak beberapa bulan lalu. Kan ini sudah tidak benar lagi,” timpal Ling Ling seraya mengaku, pembelian apartemen Kuningan Place adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya ini.

Ling Ling dan Yanti menjelaskan, dulu beberapa penghuni pernah mengadukan masalah ini ke Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sekitar tahun 2013. Kala itu, pihak KMP sempat dipanggil. Namun, kepada Pemprov DKI, KMP lagi-lagi mengaku AJB/Sertifikat sedang diurus.

Baik Ling Ling maupun Yanti mengaku sejumlah penghuni memang berkeinginan kembali menaikkan persoalan ini ke publik. Namun, mereka masih wait and see untuk sementara. (RN)