Jakarta, innews.co.id – Sebanyak 230 calon Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) nampak tekun mengerjakan soal-soal latihan dalam Pendalaman Materi yang dilakukan Pengurus Pusat Ikatan PPAT, jelang ujian para calon PPAT di Menara 165, Jakarta, Kamis (27/6/2019).

Menurut Enny Wismalia, SH., Ketua Panitia, acara ini sebagai bentuk persiapan para calon PPAT dalam menghadapi ujian yang akan diadakan pada 29-30 Juni 2019 ini.

“Kami dari PP IPPAT mencoba memperlengkapi para calon PPAT agar mereka dapat lebih menguasai materi ujian. Kami hadirkan pembicara-pembicara handal seperti Badar Baraba, I Made Pria Dharsana, MJ. Widijatmoko, Habib Adjie, Udin Narsudin, dan sebagainya,” terang Enny.

Materi-materi, kata Enny, dirangkum agar lebih memudahkan. “Peserta nampak antusias. Mereka calon PPAT yang memilih daerah kerja di Jawa Tengah dan Jawa Timur,” jelasnya.

Julius Purnawan Ketua Umum PP IPPAT (kanan) bersama Enny Wismalia, SH., Ketua Panitia Pendalaman Materi Calon PPAT saat diwawancarai di Menara 165, Jakarta, Kamis (27/6/2019)

Enny juga mengkritisi tingginya passing grade tahun ini dari BPN sebesar 80, melonjak dari tahun kemarin yang hanya 60-65.

Enny berharap, saat ujian, para calon PPAT bisa lulus dengan baik dan memenuhi passing grade. “Sangat berat sekali passing grade tahun ini,” tandas Enny.

Melonjak

Naik drastisnya passing grade tahun ini menjadi 80, juga dikritisi Julius Purnawan, SE., MH., Ketua Umum PP IPPAT. Menurutnya, ada 4 dimensi dari naiknya passing grade tahun ini, yakni masyarakat, calon PPAT, IPPAT, dan pemerintah.

“Masyarakat tentu ingin PPAT yang diajak berkonsultasi tentu orangnya cerdas. Dari sisi Calon PPAT, harus dilihat, bahwa naiknya grade berarti kualitas juga harus lebih baik. Passing grade jangan dijadikan patokan karena persiapan ujian tetap harus dilakukan oleh para Calon PPAT. Sementara dari sisi organisasi (IPPAT), punya tanggung jawab ikut serta menyiapkan para Calon PPAT dengan baik, meski semuanya tetap kembali pada si calon PPAT sendiri. Sementara dari sisi pemerintah, tentu diharapkan dengan lulusan yang baik kualitas kerja akan lebih baik,” urainya.

Dikatakannnya, para universitas harus bertanggung jawab agar lulusannya bisa juga melewati passing grade.

“Usaha tidak mengkhianati hasil. Jadi tidak bergantung pada tingkat IQ seseorang. Intinya, kembali pada seberapa serius seseorang belajar dan mengerti materi-materi yang ada,” lanjut Julius seraya mengingatkan pendalaman materi bukan awal belajar, melainkan sifatnya hanya melengkapi dari yang sudah dipelajari selama ini.

Diskresi

Soal kemungkinan sedikit yang bakal lulus lantaran tingginya passing grade, Julius mengatakan, memang kalau jumlah lulusan hanya sedikit, ya susah juga.

Bila terjadi demikian, PP IPPAT akan coba berkomunikasi dengan Menteri ATR/BPN, entah itu meminta diskresi atau kebijaksanaan lainnya. “Memang kewenangan ada di kementerian, tapi kita akan upayakan berkomunikasi dan minta passing grade bisa ditinjau ulang,” tukasnya.

Karena, kata Julius, bisa jadi testing water menyikapi kondisi demikian. Kedepan kondisi pasti lebih rumit lagi.

Pada bagian lain MJ. Widijatmoko, Anggota Dewan Pakar PP IPPAT menjabarkan, jangan dipahami peningkatan passing grade mempersulit, justru menandakan kualitas PPAT meningkat dari waktu ke waktu.

Selain itu, passing grade 80 artinya, seorang calon PPAT sudah sesuai standar internasional. Sekarang kan sudah zaman terbuka, jadi seorang PPAT pun harus bisa memenuhi standar internasional.

“Kita harusnya bangga dengan kenaikan passing grade,” tandas Widijatmoko. (RN)