Jakarta, innews.co.id – Ia dinobatkan menjadi salah satu penerima penghargaan pemerintah berupa Satya Lencana Wirya Karya yang disematkan langsung oleh Presiden Joko Widodo bertepatan dengan Peringatan Hari Koperasi Nasional 2018 di ICE BSD City, pertengahan Juli lalu.

Penghargaan tersebut merupakan buah dari kerja kerasnya selama ini dalam membangun dan menjadikan koperasi sebagai lembaga keuangan terpercaya. Tidak itu saja, jerih lelahnya diganjar penghargaan setimpal oleh karena kepiawaiannya membangun Kopdit Obor Mas menjadi salah satu koperasi ternama dan handal serta dipercaya menjadi salah satu Koperasi penyalur Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Indonesia.

“Saya sangat bersyukur dan bersukacita telah menerima penghargaan yang diserahkan langsung oleh Presiden Joko Widodo. Bagi saya, ini adalah bentuk pengakuan dari seluruh masyarakat Indonesia akan kinerja yang sudah saya jalani selama ini,” ucapnya lirih.

Sosok Leonardus Frediyanto Moatlering, S.Ak., General Manager Kopdit Obor Mas (OM) dikenal sebagai seorang yang low profile serta bersahaja. Ditemui di Wisma Inkopdit, Selasa, (24/7) malam, Frediyanto banyak berkisah tentang bagaimana perjuangannya semenjak menjejakkan kaki di Kopdit Obor Mas sampai kini.

Penjaga toko

Rupanya Leo—demikian ia biasa disapa, sejak awal meniti karir di dunia perkoperasian. Tamat kuliah diploma, ia memilih kembali ke kampung halamannya dan bekerja di KUD Makmur, Oktober 1992. Awalnya ia dipercaya sebagai penjaga toko. Selang 3 bulan, ia ditarik ke bagian kredit yang ia jalani selama 5 bulan sebelum diangkat sebagai Kepala Bagian Kredit di KUD Makmur di Maumere.

Selama 4 tahun berkarir di KUD Makmur, pada Mei 1996, pria kelahiran Maumere, 20 Oktober 1968 ini memilih resign dan masuk ke Kopdit OM yang didirikan November 1972. Dua tahun kemudian, Leo resmi dipercaya sebagai General Manager Kopdit OM sampai kini.

Ketika awal masuk, karyawan Kopdit OM berjumlah 11 orang dan memiliki aset senilai Rp756 juta. Saat dilantik sebagai GM, aset yang dimiliki Kopdit OM senilai Rp998 juta.

Kembangkan pelayanan

Mulailah Leo melakukan berbagai pembenahan, yakni di bidang pelayanan, di mana ia mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) melalui berbagai pendidikan dan pelatihan, merubah job description karyawan; di bidang administrasi dengan melakukan pembenahan, termasuk di dalamnya melakukan komputerisasi untuk pelaporan keuangan dengan menggunakan sistem aplikasi General Ledger (GL) yang kala itu sedang booming, serta di bidang produk dengan membuat produk-produk turunan yang memberi ruang bagi anggota untuk menabung.

Seiring waktu, Kopdit OM menampilkan wajah yang kian mumpuni. Kini, tercatat Kopdit OM memiliki 251 karyawan dengan total anggota per 30 Juni 2018 sebanyak 83.273 orang dan nilai aset Rp654 miliar. Sebuah angka yang fantastik!

Leonardus bersama istri tercinta

Tidak itu saja, Kopdit OM yang berpusat di Maumere tersebut juga sudah memiliki 10 cabang di 6 kabupaten/kota dan rencananya tahun ini akan memperluas pelayanan dengan membuka cabang di Kabupaten Manggarai.

Lebih jauh Leo menerangkan, Kopdit OM tetap pada core business-nya sebagai koperasi simpan pinjam. Selain ada Simpanan Pokok dan Simpanan Wajib, ada beberapa produk turunan di antaranya Simpanan Bunga Harian, Simpanan Sukarela Berjangka, Simpanan Komunitas Suci, Simpanan Hari Tua, Simpanan Masa Depan, Simpanan Dana Kredit, dan Simpanan Khusus. Sedang untuk pinjaman ada dua yakni, pinjaman usaha dan pinjaman konsumtif (pendidikan, bangun rumah, dan sebagainya).

Berlibur bersama keluarga

Untuk pengembalian, kepada pegawai negeri sipil diberikan tenor sampai 10 tahun, sedang untuk UMKM maksimal 5 tahun.

Soal adopsi teknologi, menurut Leo, saat ini pihaknya menggunakan Sistem Informasi Keuangan Koperasi Kredit yang dibuat oleh Inkopdit. “Dengan sistem ini tidak hanya bersifat online, tapi memungkinkan kita untuk memantau setiap saat,” ujarnya.

Menurut Leo, Kopdit OM sangat kuat di soal pendidikan. Ini memang menjadi fokus pembenahan kami. Sebab, kami meyakini melalui pendidikan yang baik dan terarah, maka seseorang akan tahu arah langkahnya. Disamping menguasai betul pekerjaannya.

Mengusung motto: “Engkau Susah, Aku Bantu… Aku Susah Engkau Bantu”, membuat Kopdit OM mudah mensosialisasikan diri kepada masyarakat luas di wilayah Maumere dan sekitarnya. “Kita ajak masyarakat untuk melihat bahwa peran koperasi bukan hanya mengumpulkan dana dari masyarakat, tapi juga menjadi penyalur dana dan bisa menolong masyarakat kala kesusahan. Dan, itu sudah kami buktikan,” ujar Leo.

Di Kopdit UMKM, dalam sebulan bisa disalurkan kredit sebesar Rp25 – Rp80 miliar kepada masyarakat. Ini menunjukkan bahwa koperasi ini sangat sehat dari sisi keuangan. Kepada UMKM penyalurannya mencapai 64 persen, 14 persen kepada PNS dan sisanya kepada pihak swasta seperti tukang ojek, dan sebagainya.

Penyalur KUR

Saat ini, Kopdit OM menjadi salah satu koperasi yang dipercaya pemerintah sebagai penyalur KUR. Keterlibatan OM ternyata melalui perjalanan panjang dan berliku. Pada Desember 2017, Kopdit OM pertama kali menyalurkan KUR sebesar Rp94 juta.

Namun, karena perpindahan dari Bank Indonesia ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK), maka ada perubahan Sistem Laporan Informasi Keuangan (SLIK). Leo berharap pada 6 Agustus ini, akan ditandatangani MoU antara Kopdit OM dengan OJK sehingga penyaluran KUR bisa kembali dilakukan oleh Kopdit OM. “Kopdit OM akan menyalurkan dana Rp150 miliar dengan pembagian Rp50 miliar untuk KUR kecil dan Rp100 miliar untuk KUR mikro.

Menurut Leo, saat ini Kopdit OM akan fokus dalam penyaluran KUR. Ke depan, memang ada rencana untuk membuat anak perusahaan, bahkan sampai bisa melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). “Akan tetapi, untuk saat ini, kami mau fokus menyalurkan KUR agar tepat guna dan tepat sasaran,” cetusnya.

Tantangan

Bicara soal bermunculannya lembaga-lembaga keuangan dewasa ini, menurut Leo, itu tidak bisa dihindari. “Itu menjadi cermin kemajuan jaman dan teknologi yang begitu pesat. Kita jangan panik, tapi justru menantang kita untuk berpikir cepat dan taktis. Dalam hal ini, koperasi harus berbenah diri dan meningkatkan kualitas pelayanan, bukan mencemburui lembaga-lembaga yang baru muncul,” tandas suami tercinta Florida Hale dan ayah dari dua putri ini lugas.

Salah satu terobosan yang dilakukan Kopdit OM adalah membuat website serta memperkuat pelayanan di media sosial, meski tidak mengaburkan sentuhan personal kepada para anggotanya. “Kita harus berbenah. Sebab kalau tidak, kita akan ketinggalan, bahkan jadi kehabisan,” tukasnya seraya berkeyakinan bahwa koperasi-koperasi di Indonesia pasti bisa bersaing dengan lembaga keuangan yang lain. “Masalahnya kita mau tidak,” tantangnya.

Dirinya bersyukur, pemerintah melalui Kementerian Koperasi dan UKM selama ini banyak membantu Kopdit OM dan memberikan solusi bilamana ada kesulitan yang dihadapi. “Saya menaruh apresiasi tinggi terhadap Kemenkop dan UKM untuk perhatian dan dorongan motivasinya selama ini kepada Kopdit OM,” serunya.

Kepada pemerintah, Leo menaruh harapan besar agar dapat membantu memberi keringanan pajak kepada koperasi. Selama ini pajak yang dikenakan mencapai 25 persen. Akibatnya, pembagian SHU kepada anggota menjadi sangat kecil. “Kalau pajak bisa ditekan, tentu SHU yang dibagi akan semakin besar. Dengan begitu, maka anggota akan semakin percaya menyimpan dananya di koperasi,” imbuh Leo.

Selain itu, ia juga berharap program beasiswa pendidikan bagi pengelola koperasi bisa dihidupkan kembali. Dulu pernah ada, tapi sekarang menghilang. Padahal, kata Leo, itu sangat penting dan memberi banyak manfaat. “Dengan pendidikan yang banyak, maka baik karyawan, pengurus maupun pengawas koperasi akan menjadi profesional. Bila demikian, tentu pengelolaan koperasi akan semakin baik lagi,” ujarnya. (RN)