Jakarta, innews.co.id – Laksanan Tri Handoko dilantik oleh Menristek dan Dikti Mohammad Nasir sebagai Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang baru, di Jakarta, Kamis, (31/5), menggantikan Iskandar Zulkarnain yang wafat pada 2 Juli 2017. Sebelumnya Tri Handoko menjabat sebagai Pelaksana Tugas Kepala LIPI.

Menurut Handoko, hal yang mendesak dibenahi adalah manajemen riset internal dan mekanisme pengelolaan anggaran litbang. “Harus dikelola berbeda dengan institusi administratif lainnya,” kata Handoko.

Satuan kerja tertetu di bawah LIPI bisa tetap sebagai lembaga pemerintah murni. Misalnya kebun raya, pusat dokumentasi dan informasi dan sejenisnya yang memiliki tugas fungsi yang tidak bisa dilakukan dengan mudah.

Sementara itu, pusat-pusat penelitian teknis yang fokus pada bidang penelitian tertentu dapat dibentuk berbasis proposal yang dibuka kompetitif. Pusat-pusat ini bisa dikelola oleh swasta murni, menempel sebagai lembaga penelitian di perguruan tinggi.

Pengoperasian pusat-pust penelitian itu berbasis kontrak dalam periode tertentu, yaitu tujuh hingga sepuluh tahun. Setiap tahun mereka mendapat dana dari lembaga induk dalam bentuk hibah (block grant) dengan sistem evaluasi berbasis kinerja tahunan atau akhir kontrak. Model seperti ini diadopsi oleh pusat-pusat penelitian di bawah Max Planck, Fraunhofer, Helmholz di Jerman.

Pada kesempatan yang sama, Nasir berharap agar LIPI dapat meningkatkan kualitas riset iptek untuk menghadapi tantangan berat Revolusi Industri 4.0. Caranya adalah dengan mengarahkan sumber daya manusia dan pengembangan teknologi. (BT)