DR. dr. Lucy Widasari, MSi., salah satu Tim Ahli (TA) dari Tim Percepatan Penanggulangan Anak Kerdil (stunting) TP2AK Sekretariat Wakil Presiden di sela-sela acara Konferensi Internasional Ilmu Kedokteran dan Kesehatan di Universitas Syahkuala, Aceh, 9-10 Oktober 2019 lalu

Jakarta, innews.co.id – Triple burden masalah gizi dapat menyebabkan rendahnya kualitas sumber daya manusia (SDM) dan menjadi ancaman bagi bangsa.

Penegasan ini disampaikan DR. dr. Lucy Widasari, MSi., salah satu Tim Ahli (TA) dari Tim Percepatan Penanggulangan Anak Kerdil (stunting) TP2AK dan dosen serta peneliti di bidang gizi kepada innews, di Jakarta, Senin (14/10/2019).

DR. dr. Lucy Widasari, MSi., salah satu Tim Ahli (TA) dari Tim Percepatan Penanggulangan Anak Kerdil (stunting) TP2AK Sekretariat Wakil Presiden bersama peserta acara Konferensi Internasional Ilmu Kedokteran dan Kesehatan di Universitas Syahkuala, Aceh

Lebih jauh Dr. Lucy menerangkan, investasi SDM sejak janin di dalam kandungan hingga anak usia dua tahun (1000 Hari Pertama kehidupan) menjadi modal awal untuk sumber daya manusia yang sehat, cerdas, dan produktif yang akan memberikan kontribusi pada pembangunan.

Diterangkannya, triple burden masalah gizi meliputi keadaan defisiensi energi dan protein (gizi buruk dan gizi kurang/underweight) dengan prevalensi sebesar 17,7 persen, stunting (sangat pendek dan pendek) dengan prevalensi sebesar 30,8 persen, prevalensi sangat kurus dan kurus (wasting) sebesar 10,2 persen, defisiensi zat gizi mikro (anemia ibu hamil dengan prevalensi 48,9 persen) dan masalah kelebihan energi (gizi lebih balita dengan prevalensi sebesar 8 persen dan gizi lebih penduduk usia diatas 18 tahun dengan prevalensi sebesar 28,9 persen) berdasarkan data Riskesdas 2018.

Sementara itu, prevalensi stunting berdasarkan Riskesdas 2018, dibandingkan dengan 2013 memang mengalami penurunan, namun capaian tersebut masih jauh dari target WHO yaitu, sebesar 20 persen.

DR. dr. Lucy Widasari, MSi., salah satu Tim Ahli (TA) dari Tim Percepatan Penanggulangan Anak Kerdil (stunting) TP2AK Sekretariat Wakil Presiden menyoal Triple burden masalah gizi dapat menyebabkan rendahnya kualitas sumber daya manusia (SDM) dan menjadi ancaman bagi bangsa

“Bukan semata stuntingnya yang menjadi masalah besar, tetapi yang terpenting adalah proses terjadinya stunting bersamaan dengan terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan organ diantaranya otak, jantung, pankreas, ginjal, dan lainnya,” tambah Dr. Lucy di sela-sela acara Konferensi Internasional Ilmu Kedokteran dan Kesehatan di Universitas Syahkuala, Aceh, 9-10 Oktober 2019 lalu.

Masalah gizi seperti stunting dan anemia yang dialami selama masa remaja akan mempengaruhi kesehatan ibu maupun generasi berikutnya, terutama dalam hal penurunan produktivitas dan usia harapan hidup.

Hasil Riskesdas 2018 menunjukkan, meningkatnya prevalensi penyakit tidak menular (PTM) jika dibandingkan dengan Riskesdas 2013, antara lain kanker, stroke, penyakit ginjal kronis, diabetes melitus, dan hipertensi yang berhubungan dengan pola hidup antara lain merokok, konsumsi minuman beralkohol, aktivitas fisik, serta konsumsi buah dan sayur.

DR. dr. Lucy Widasari, MSi., dalam acara Konferensi Internasional di Aceh

Saat ini, tambah Dr. Lucy, sebagian besar remaja cenderung menerapkan pola sedentary life, sehingga kurang melakukan aktivitas fisik yang dapat meningkatkan risiko remaja menjadi gemuk, overweight, bahkan obesitas. Obesitas dapat meningkatkan risiko penyakit tidak menular seperti hipertensi, penyakit kardiovaskular, diabetes mellitus, kanker, dan osteoporosis.

Hal yang perlu disikapi, lanjut Dr. Lucy, Indonesia berpeluang menghadapi bonus demografi pada tahun 2020-2030 yang ditandai dengan dominasi jumlah penduduk usia produktif.

“Bonus demografi merupakan peluang untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan dapat memberikan berkah bagi Indonesia serta kesempatan besar untuk mengubah masa depan Indonesia. Salah satunya mengubah tingkat ekonomi Indonesia dari negara berkembang menjadi negara maju. Kesiapan pembangunan SDM yang merupakan penggerak utama pembangunan akan menentukan sejauhmana keberhasilan memanfaatkan peluang bonus demografi tersebut,” urainya.

Karena itu, jelasnya, perlu memperbaiki pola hidup sehat dengan gizi seimbang yang diperlukan bagi pertumbuhan dan perkembangan yang normal, kecerdasan, kesehatan dan aktivitas sehari-hari dan berbagai proses dalam tubuh lainnya.

Selain itu, perlu menurunkan prevalensi stunting dan anemia serta mengatasi masalah kelebihan gizi dengan pendekatan siklus hidup.

Salah satu tanda yang dapat memberikan gambaran tentang status gizi seseorang atau keadaan keseimbangan antara asupan dan kebutuhan zat gizi tubuh adalah dengan melakukan pengukuran pertumbuhan fisik.

Dalam kaitan dengan pengukuran pertumbuhan fisik, penting akurasi data yang berkualitas untuk menyediakan informasi terkini secara teratur tentang keadaan gizi di masyarakat dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.

Untuk mendapatkan data berat badan dan tinggi badan balita yang akurat tentunya dibutuhkan keterampilan dalam melakukan pengukuran, yang dapat diperoleh dengan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petugas kesehatan di lapangan.

Selain itu, sangat perlu dilakukan pemantauan dan penilaian pertumbuhan balita yang teratur agar terjamin pertumbuhan normalnya dan mencegah terjadinya gangguan pertumbuhan balita dengan kurva pertumbuhan (KMS). (RN)