Makassar, innews.co.id – Universitas Muslim Indonesia, Makassar, menganugerahi Wakil Presiden Jusuf Kalla gelar doktor kehormatan (doctor honoris causa) dalam bidang pemikiran politik Islam. Wakil Presiden mengaku sempat menolak pemberian gelar doktor kehormatan ini. Alasannya, JK merasa sebagai bagian dari universitas itu.

“Saya orang dalam di UMI, saya pernah mengajar di UMI,” kata JK saat membuka orasi ilmiahnya di UMI, Makassar, Sabtu (23/6).

Saat itu, JK merupakan asisten dosen di UMI. Tapi, dosen yang mengajar tidak pernah masuk kelas dan selalu memandatkan aktivitas belajar mengajar kepada dirinya. Dia juga pernah menjabat sebagai ketua yayasan perguruan tinggi Islam swasta tertua di Indonesia itu. Meski begitu, JK tetap mengapresiasi pemberian gelar doktor kehormatan ini.

“Ini merupakan dorongan buat saya untuk bekerja lebih baik buat negeri ini,” ujar Kalla.

Sementara itu, Pejabat (Pj) Gubernur Sulawesi Selatan Sumarsono menyebut, ini merupakan gelar doktor kehormatan ke-12 yang diterima JK. Hal ini membuat dia menjadi tokoh yang memiliki gelar doktor kehormatan terbanyak kedua setelah Presiden Sukarno di Indonesia.

“Di Indonesia yang paling banyak mendapatkan gelar doktor honoris causa adalah Ir Sukarno, 25 kali. Dan yang kedua adalah Bapak Wapres Jusuf Kalla,” kata Soni, sapaan karib Sumarsono.

Rektor UMI Masrurah Mokhtar menjelaskan pemberian gelar doktor kehormatan telah melalui kajian mendalam. Senat UMI menilai JK merupakan politikus yang terlibat langsung dalam penyusunan kebijakan strategis dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat.

JK juga dinilai memiliki karakter dan konsisten dalam mengatasi berbagai masalah. Masrurah mencontohkan upaya JK dalam menyelesaikan sejumlah konflik di Indonesia, seperti Aceh, Ambon, dan Poso.

“Berbagai terobosan yang beliau buat juga mendapatkan pengakuan dari dalam dan luar negeri,” kata Masrurah.

Pria asal Makassar ini pernah mendapatkan gelar doktor kehormatan dari Universitas Malaya, Malaysia (2007), Universitas Soka, Jepang (2009), Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung (2011), Universitas Hasanuddin, Makassar (2011), dan Universitas Brawijaya, Malang (2011). Gelar serupa juga diperoleh dari Universitas Indonesia, Depok (2013), Universitas Syiah Kuala, Aceh (2015), Universitas Andalas, Padang (2016), Universitas Islam Negeri Alauddin, Makassar (2018), Universitas Hiroshima, Jepang (2018). (IN)