Diskusi hasil monev oleh DR. dr. Lucy Widasari, M.Si., dengan Tim Pendampingan FKM Undana, Senin (18/11/2019)

Timor Tengah Utara, innews.co.id – Masalah stunting adalah masalah pembangunan yang kompleks, menyangkut hampir semua sektor pembangunan. Bisa dijabarkan stunting adalah keadaan “gagal tumbuh kembang” anak yang terjadi sejak 1000 hari pertama kehidupan (1000 HPK), yaitu sejak dalam kandungan sampai anak usia 2 tahun.

Menyikapi persoalan ini, perguruan tinggi dirasa memiliki peran strategis untuk membantu pemerintah kabupaten/kota dalam pendampingan program pencegahan dan penanggulangan stunting guna memperkuat kapasitas pemerintah daerah mulai dari tingkat kabupaten sampai tingkat desa untuk perencanaan, implementasi, monitoring, dan evaluasi program.

Pembahasan umum seputar proses monev oleh DR. dr. Lucy Widasari, M.Si., Dr. Intje Picauly, Wadek 2 FKM Undana Dr. Marilyn Junias dan Wadek I FKM Undana Dr. Christin. N. Berek

Kerangka untuk pemantauan tahapan pelaksanaan program (input-output) memanfaatkan indikator yang telah ditetapkan bersama antara Direktorat Gizi Kementerian Kesehatan RI (Ditzi) dengan Institut Gizi Indonesia (IGI) dari pelaporan data program di setiap tingkatan. Peran penting perguruan tinggi dalam pendampingan ini terutama adalah memberdayakan (capacity building) aparat pemerintahan daerah, tidak hanya tenaga kesehatan, tetapi juga sektor-sektor lain terkait.

Universitas Nusa Cendana melaksanakan monitoring dan evaluasi dari pelaksanaan pendampingan dalam pencegahan stunting di Kabupaten Timur Tengah Utara (TTU) yang dipimpin oleh ketua pokja pendampingan dari Fakultas Kesehatan masyarakat Universitas Nusa Cendana DR. Intje Picauly, MSi., Senin (18/11/2019).

Proses pendampingan dilaksanakan sejak Mei 2019, sampai dengan sekarang berupa mentoring, penggalangan komitmen bersama peran dan fungsi pemerintah daerah hingga desa serta membantu memberikan pengetahuan dan keterampilan dalam melaksanakan intervensi gizi spesifik maupun sensitif pencegahan stunting di 10 desa locus stunting di Kabupaten TTU.

Pelaksanaan monev di Ruang Rapat FKM Undana, Senin (18/11/2019)

Salah satu inovasi unggulan yang dilakukan oleh FKM Universitas Nusa Cendana adalah dengan membentuk Rumah Komunikasi (Rukom) Stunting” oleh Ketua TIM PKK Kabupaten TTU. Praktik baik di tingkat global yang mengaplikasikan strategi perubahan perilaku melalui komunikasi interpersonal terbukti ampuh untuk menurunkan angka stunting secara signifikan.

Kegiatan monitoring dan evaluasi ini dilakukan oleh wakil dari Institut Gizi Indonesia (IGI), DR. dr. Lucy Widasari, MSi. Pada kesempatan itu, DR. dr. Lucy berharap agar implementasi kegiatan di setiap tingkatan yang telah dilaksanakan diupayakan dapat berjalan secara terus menerus (berkelanjutan) oleh pemerintah daerah mulai dari tingkat kabupaten sampai tingkat desa dari pengembangan model pendampingan yang telah dilaksanakan oleh Universitas Nusa Cendana secara terintegrasi sejak dari perencanaan sampai ke pelaksanaan, pemantauan dan evaluasinya dalam rangka percepatan penurunan dan pencegahan stunting di Kabupaten TTU.

Dijelaskan, kompleksitas tergambar dalam 17 goals SDGs, dari soal membrantas kemiskinan, menghapus kelaparan (zero hunger) dan kurang gizi (termasuk stunting), perbaikan kesehatan ibu dan anak, pembrantasan penyakit, meningkatkan pendidikan, perbaikan lingkungan dan sanitasi, keamanan pangan dan gizi, persamaan gender, kerjasama antar-bangsa dan sebagainya.

Kompleksitas pembangunan tersebut tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga semua komponen bangsa termasuk perguruan tinggi. (RN)