Ustad H. Rizal Maulana Ketua Seknas Dakwah Jokowi kritisi ucapan HA di Jakarta, Selasa (11/2/2020) malam

Jakarta, innews.co.id – Sejumlah manuver yang dilakukan oknum relawan Jokowi-Ma’ruf Amin mulai terkuak. Bahkan sampai harus menyebar berita hoaks. Apalagi alasannya, kalau bukan demi mendapat jabatan.

Dengan kritis Ustad H. Rizal Maulana Ketua Seknas Dakwah Jokowi mengungkapkan adanya berita bohong yang disebarkan Haidar Alwi (HA) mengenai Menantu Presiden Jokowi dan Moeldoko yang terlibat dalam kasus investasi ASABRI sebesar Rp1 triliun.

Menurut Rizal, apa yang dikatakan HA tersebut beraroma hoaks dan fitnah. “Direktur PT ASABRI seperti yang ditulis oleh HA sendiri sudah mengklarifikasi bahwa tuduhan itu fitnah bahwa tidak benar adanya. Saya sangat menyesalkan terjadinya hal tersebut,” kata dia.

Dalam sebuah kesempatan HA menyebut bahwa pencairan dana Rp1 triliun dari PT. ASABRI ke BN adalah sebagai dana investasi PT ASABRI ke PT Jenedi Investama yang dimiliki oleh BN, tetapi dalam paparan tentang perusahaan-perusahaan investasi yang mengelola dana PT ASABRI, tidak ada disebut PT Jenedi Investama.

Rizal dengan lugas menilai, kebohongan HA tentang keterlibatan Menantu Presiden dan Moeldoko dalam kasus PT ASABRI adalah fitnah keji yang beraroma sakit hati dan dendam karena syahwat posisi jabatannya tidak terwujud.

Konon kabar dari sumber terdekat, HA mengincar posisi jabatan Menteri atau Wakil Menteri, namun tidak terakomodir, ujungnya jadi berulah.

Lebih jauh Rizal mengatakan, baiknya HA bertabayun sebab Moeldoko telah berjerih lelah memperjuangkan pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin agar terpilih pada Pilpres 2019 lalu.

Selain itu, Rizal memastikan bila dalam 3 x 24 jam HA tidak meminta maaf kepada Moeldoko, maka pihaknya akan melaporkan kepada pihak berwajib dengan tuduhan menyebar fitnah.

Bagi Rizal, sejatinya relawan adalah komunitas masyarakat yang mendukung salah satu kandidat Pilpres adalah karena keyakinan bahwa kandidat yang didukungnya akan membawa perbaikan dan kemajuan bagi negeri ini. Artinya, dukungan kepada kandidat (Jokowi) bukan hanya mendukung pribadinya untuk menjadi Presiden, tetapi relawan mendukung Jokowi untuk NKRI yang lebih baik dan maju.

Berangkat dari motivasi itu, maka relawan tidak berhitung untung rugi, bersifat rela dan ikhlas meski dia harus berkorban waktu, tenaga, pikiran bahkan dana, demi terpilihnya kandidat yang didukung.

Namun disayangkan bila ada relawan yang tidak sejati. “Mereka tidak tulus dan ikhlas, dibalik gerakannya, ternyata ada maksud tersembunyi, mengincar jabatan atau posisi di pemerintahan atau BUMN, ketika tujuannya tidak terakomodir, maka mereka membuat ulah, bahkan menyerang lingkaran Istana,” pungkas Rizal. (RN)