Jakarta, innews.co.id – Tim Verifikasi telah menyampaikan 4 nama sebagai bakal calon (balon) Ketua Umum Ikatan Notaris Indonesia (INI) pada Pra Kongres INI di Yogyakarta, Sabtu (20/10).

Unik melihat para balon caketum INI yang akan ‘bertarung’ pada Kongres INI di Makassar, tahun depan, karena terdiri dari 2 Kartini dan 2 Pangeran.

Keempat balon caketum adalah Yualita Widyadhari (petahana), Otty Hari Chandra Ubayani, Hapendi Harahap, dan Firdhonal.

Menurut Welvi Witra, SH., M.Kn., Pengurus Pengwil INI Jawa Barat Bidang Organisasi, keempatnya adalah figur-figur terbaik yang ada di INI sekarang ini.

“Tidak mungkin anggota mencalonkan seseorang kalau bukan yang terbaik,” ujar Welvi singkat saat ditemui di Depok, Selasa (30/10) sore.

Menarik mengutak-atik keempat balon ini untuk menelisik peta politik yang bisa saja mempengaruhi hasil Kongres nanti.

Yualita – Firdhonal

Firdhonal, selain sebagai balon caketum, juga diusung sebagai balon DKP. Tim Verifikasi memberi waktu 90 hari di mana Firdhonal harus memilih salah satu.

Menurut Welvi, tanpa mengurangi rasa hormat, kemungkinan besar Firdhonal akan mengambil ‘jalan aman’ sebagai DKP dari pada caketum.

Lalu kemana suara Firdhonal dan pendukungnya dalam hal pemilihan Ketum INI? “Besar kemungkinan dialihkan ke petahana,” ujar Welvi.

Ditelisik lebih jauh secara historikal, banyak pihak mengatakan, ada hubungan emosional pekerjaan antara Firdhonal dengan Yualita sejak dulu, sehingga besar kemungkinan untuk pemilihan Ketum INI, suara pendukung Firdhonal dialihkan ke petahana.

Hal ini juga dibenarkan Welvi. “Benar, keduanya ada hubungan sejarah pekerjaan,” tuturnya.

Dengan tambahan suara dari Firdhonal, maka petahana bisa semakin kuat.

Otty – Hapendi

Lalu bagaimana dengan Otty dan Hapendi?

Bicara Hapendi, masih kata Welvi, ada kemungkinan memilih untuk berkonsentrasi pada gugatan IPPAT. “Dalam hemat saya, lebih baik Bang Hapendi fokus pada gugatan. Sebab, kalau menang di pengadilan dan diadakan KLB, masih ada kans untuk menang,” jelasnya.

Dengan begitu, bisa saja, Hapendi memberikan suara pendukungnya ke Otty. Tentu bisa saja dengan bargaining bahwa Hapendi dukung Otty di INI, dan Otty dukung Hapendi di IPPAT, bila terjadi KLB.

Kok suara Hapendi bukan ke petahana? “Rasanya kecil kemungkinan,” kata Welvi. Mungkin ini berangkat dari perjalanan histori keduanya.

Bila demikian terjadi, maka bisa dipastikan “pertarungan” akan terjadi antara 2 Kartini INI, yakni Yualita dan Otty.

Menurut Welvi, Otty tidak bisa diremehkan karena pendukungnya cukup banyak. Belum lagi ditambah pendukung Hapendi yang kemungkinan diarahkan mendukung Otty. Petahana pun harus waspada.

Welvi menerangkan, saat pencalonan Ketum IPPAT, banyak juga pendukung Yualita yang mendukung Otty. Nah, ini menambah ramai peta politik. Bisa jadi ada pergeseran dukungan.

Namun, seperti banyak didengungkan, Otty kemungkinan bisa terganjal karena untuk mencalonkan sebagai ketum ada syarat seseorang minimal pernah sebagai pengurus wilayah atau daerah.

Mengenai hal itu, Welvi beranggapan, harusnya itu bisa dikompromikan. “Bisa saja itu dibuat menjadi syarat sekunder, bukan primer,” ujarnya.

Dengan kata lain, jangan sampai nanti petahana hanya ‘melawan’ kotak kosong. “Biarkan saja dibuka kran pemilihan bagi siapa yang dianggap pantas ikut kontestasi. Jangan hanya gara-gara syarat teknis, lalu seseorang dieliminir. Bisa ramai nanti karena tentu para pendukung para balon tidak terima,” kata Welvi mengingatkan.

Oleh karena itu, Welvi mengingatkan, meski di dalam Tim Verifikasi banyak terdapat pengurus pusat, namun netralitas harus dijaga.

Kongres INI masih 6 bulan ke depan. Segala sesuatu bisa berubah ditengah jalan. Namun, bisa dipastikan ‘pertarungan’ akan berlangsung sengit. Ini menjadi suatu pembelajaran demokrasi bagi seluruh anggota INI. (RN)