Vonny Pawaka

Jakarta, innews.co.id – Kongres Ikatan Pejabat Pembuat Akta Tanah (IPPAT) ke-7 yang rencananya akan diadakan di Makassar sebagai amanat dari Kongres ke-6 di Surabaya, tiga tahun silam, menjadi momentum penting dalam upaya membangkitkan IPPAT menjadi organisasi yang berwibawa, modern, serta kemanfaatannya dirasakan oleh seluruh anggotanya.

Harapan besar yang yang disampaikan PPAT senior Vonny Rahayu Pawaka, SH., M.Kn., dalam perbincangan di Jakarta, Rabu, (9/4) ini nampaknya menjadi kerinduan dari seluruh anggota IPPAT di persada ini.

Menurut Vonny, ada banyak pekerjaan rumah yang sejatinya dilakukan oleh ketua umum Ikatan Pejabat Pembuat Akta Tanah (IPPAT) terpilih pada Kongres ke-7 yang akan dilaksanakan pada 2018 ini. Tidak saja pembenahan secara internal, tapi juga ke luar bagaimana memunculkan wajah IPPAT yang lebih humanis dan memiliki greget di persada ini.

Dari empat caketum yang muncul, menurut Vonny semuanya punya kapasitas bagus. Namun ketika didesak dirinya cenderung kemana, tanpa sungkan dirinya menyatakan cenderung memilih Otty Handayani, satu-satunya perempuan yang bakal maju dalam perebutan kursi Ketua Umum IPPAT ini.

Dalam pandangannya, sosok Otty bukan saja seorang yang profesional, berpengalaman, mandiri, mumpuni, dan networking yang bagus, tapi juga bisa menjadi ‘Good Mother’ bagi segenap anggota IPPAT.

Selain itu, kata Vonny, ia melihat program-program Otty sesuai dengan kebutuhan dari para anggota IPPAT. Salah satu yang menarik perhatian adalah bagaimana ke depannya, Kongres IPPAT bisa diikuti oleh seluruh anggota lewat sistem komputerisasi terpadu. Kalau sekarang hanya anggota yang ikut kongres yang memiliki hak suara saja.

Sejujurnya, kata Vonny, sebagai anggota IPPAT, dirinya belum merasakan manfaat dari organisasi ini. “Banyak teman-teman yang terlibat perkara hukum, seperti dibiarkan. Baru diujungnya dibela oleh rekan-rekan pengurus IPPAT. Jadi, pengurus di level pusat lamban menangani persoalan yang menimpa anggotanya,” ujarnya terbuka.

Beberapa waktu lalu, kata Vonny, sempat ada masalah kartu tanda anggota (KTA). “Banyak anggota mempertanyakan kenapa setiap pergantian pengurus harus membuat KTA baru yang memakan biaya cukup besar. Padahal, KTA kita harusnya berlaku sampai kita pensiun,” ujarnya.

Lebih modern

Dalam benaknya, Vonny bermimpi IPPAT bisa menjadi organisasi modern ke depannya, di mana teknologi yang sudah demikian maju pun bisa diadopsi oleh IPPAT. Hal ini sejalan dengan niatan Otty untuk membuat sebuah sistem terpadu yang memungkinkan para anggota bisa mengaksesnya.

Demikian juga soal sekretariat, menurut Vonny, ke depan harus benar-benar dipikirkan IPPAT bisa punya sekretariat sendiri. Jadi, jangan ganti pengurus, alamat sekretariat pun berubah.

Vonny menyayangkan munculnya black campaign jelang kongres ini. Ada yang mengatakan pendukung Otty kebanyakan ALB (Anggota Luar Biasa)—anggota PPAT yang belum disumpah—padahal itu tidak benar. “Tidak perlu melakukan black campaign atau menjelekkan-jelekkan caketum lain. Silahkan kampanye secara santun,” imbuh Vonny yang pernah menjadi Putri Indonesia perwakilan dari Provinsi DKI Jakarta, tahun 1973 ini.

Bicara kinerja panitia kongres, Vonny menambahkan, waktu sudah semakin dekat, tapi sampai sekarang belum ada kepastian tempat dan waktunya. Ini menjadi tanda tanya besar, ada apa dibalik penundaan-penundaan waktu ini?

Siapa pun yang terpilih sebagai Ketum IPPAT, bagi Vonny, harus mampu merangkul seluruh anggota IPPAT. Jangan sampai terpecah-pecah, karena kita semua adalah keluarga besar. (RN)