Jakarta, innews.co.id – Sumbangsih wanita Indonesia begitu nyata di era sebelum kemerdekaan. Mereka tidak hanya membantu para pejuang di dapur umum, tapi juga mengorbankan nyawanya untuk ikut berperang.

Selepas kemerdekaan, para wanita pejuang kembali berkumpul. Berawal dari reuni nasional, 6 Maret 1976 di TMII, Jakarta, dilanjutkan pembentukan Kelasykaran Wanita, Juni 1976 yang berasal dari 4 unsur yakni Yati Arudji Kartawinata (mewakili LASWI), Dartiyah Soeripto (LPI), Yo Chaerul Saleh (BAPP) , dan Yo Paramita Abdulrahman (BPI). Selanjutnya, pada Musyawarah Nasional I di Palembang, 1-3Juni 1983 dilekatkanlah nama Wirawati Catur Panca (WCP) kepada wadah ini yang berarti Prajurit Wanita Empat Lima.

Pada Munas ke XII WCP di Jakarta, 11-14 Oktober 2018 terpilih Hj. Pia Feriasti Megananda, BA., sebagai Ketua Umum periode 2018-2021. Demikian juga dipilih Hj. Okky Asokawati Padmodimulyo, M.Si (Ketua Harian), Corry Soekotjo (Ketua I), Mediasti Adityani Sutopo, SH (Ketua II), Dra. Hj. RA Damayanti Moehono (Ketua III), serta Atiek Sardjana (Sekretaris Jenderal).

Pengukuhan kepengurusan Wirawati Catur Panca di Aula DHN, Gedung Joeang, Jakarta, Kamis (24/1/2019)

Pengukuhan kepengurusan WCP dilakukan di Aula DHN, Gedung Joeang, Jakarta, Kamis, (24/1/2019) yang dibarengi dengan penandatanganan MoU antara WCP dengan BPOM. Tujuan MoU ini untuk meningkatkan peran Keluarga Besar WCP di bidang keamanan serta mutu obat dan makanan.

Kepada wartawan usai acara pengukuhan Pengurus WCP, Penny Kusumastuti Lukito Kepala BPOM mengatakan pihaknya menyambut baik MoU tersebut.

“Kami tidak bisa bekerja sendiri, terutama dalam mensosialisasikan keamanan obat dan makanan. Karena itu, kami butuh wadah seperti WCP sebagai perpanjangan tangan ke masyarakat,” kata Penny.

Penny berharap tidak hanya dengan WCP, tapi akan semakin banyak wadah-wadah organisasi kemasyarakat lain yang bekerjasama dengan BPOM. Dengan begitu, pihaknya akan merasa terbantu.

Sementara itu Pia Megananda mengatakan, WCP akan menindaklanjuti MoU dengan BPOM ini dengan turun langsung ke masyarakat, baik di tingkat pusat dan daerah untuk memberi pemahaman yang benar kepada masyarakat mengenai produk-produk makanan dan obat yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi.

Bagi Penny, kerjasama dengan WCP ini sangat nyambung karena pemahaman akan obat dan makanan yang baik biasanya lebih mudah dipahami oleh kaum wanita.

Kembali ke WCP, visi-misi yang diemban di antaranya membina keluarga anggota kelasykaran wanita meningkatkan status sosial wanita pejuang, mengadakan inventarisasi eks anggota kelasykaran wanita, menghimpun dan menyusun sejarah/pengalaman perjuangan anggota kelasykaran wanita dalam revolusi fisik 1945-1949, memberikan beasiswa kepada putra/putri eks anggota kelasykaran wanita Indonesia, melestarikan jiwa, semangat, dan nilai-nilai juang 45.

WCP juga memiliki 4 pilar utama yang sejalan dengan Sustainable Development Goals yakni, pilar pembangunan sosial, pilar pembangunan ekonomi, pilar pembangunan lingkungan, dan pilar pembangunan hukim dan tata kelola. (RN)