Pdt Lucas Kacaribu, S.Sos., MH., Ketua Umum DPP Hamba Tuhan Indonesia (HATINDO)

Jakarta, innews.co.id – Mentaati protokol kesehatan menjadi salah satu hal sederhana yang bisa dilakukan umat Kristiani di masa pandemi ini. Hal tersebut juga menjadi cermin bahwa hidup kita menjadi berkat bagi sesama.

Hal itu dikatakan Pdt Lucas Kacaribu, S.Sos., MH., kepada innews, Senin (19/7/2021). “Sayangnya, masih banyak dari kita yang melanggar. Bahkan di masa PPKM Darurat ini, berbagai peraturan yang dibuat pemerintah dengan tujuan menekan penyebaran Covid-19 pun dilanggar,” ujar Lucas.

Hamba Tuhan yang dikenal low profile ini meminta umat Kristiani bisa menjadi berkat di masa pandemi ini. “Hendaknya sebagai umat Kristen kita harus bisa menjadi garam dan terang. Menjadi contoh dan berkat ditengah masyarakat, seperti Abraham yang disuruh Tuhan untuk pergi dan menjadi berkat dalam Kejadian 12,” tuturnya.

Lucas yang juga dikenal sebagai pengusaha dan motivator ini menyerukan, “Jadilah berkat! Baik menjadi pendoa, orang yang membantu orang lain dalam isoman, memberi bantuan finansial, dan sebagainya. Pandemi ini akan berangsur berkurang apabila kita umat Kristiani sama-sama saling menopang”.

Disinggung soal kualitas peribadahan yang oleh sebagian orang dinilai kurang afdol karena dilakukan di rumah, Lucas menepis hal tersebut. “Tentu tidak! Karena seperti dikatakan dalam Kitab Roma 12:1, ‘Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah; itu adalah ibadahmu yang sejati’. Ucapan ini sangat lugas mengingatkan umat akan makna ibadah. Persembahkanlah tubuhmu! Ini merupakan gambaran kegiatan oleh anggota tubuh, apapun yang dilakukan yaitu, semua aktifitas dalam kehidupan ini. Artinya, kapanpun, dimanapun, seluruh kegiatan adalah ibadah yang sejati. Bukan hanya hari Minggu di gereja,” urai Ketua Umum DPP Hamba Tuhan Indonesia (HATINDO) ini.

Menurutnya, umat tak boleh menilai diri sudah beribadah, menyenangkan Tuhan, hanya karena sudah ke gereja dan sudah mendengar khotbah. Apalagi gereja dijadikan pusat pencucian dosa dengan doa, pujian, dan persembahan yang melimpah. “Ini kejahatan rohani yang serius. Tuhan tak tertarik dengan segudang kegiatan kerohanian umat. Dia memandang jauh kedalam hati, dan melihat tuntas semuanya, di semua jalan kehidupan manusia. Tuhan menuntut ibadah yang sejati, bukan sekedar ritual keagamaan.
Dia menetapkan standard quality dalam beribadah. Ibadah adalah persembahan yang hidup,” tegas Ketua DPD Asosiasi Pendeta Indonesia (API) Jawa Barat ini.

Karenanya, sambung Lucas, peribadah virtual menjadi hal pas dilakukan di masa pandemi aekarang ini. “Persekutuan dalam ibadah secara virtual ataupun daring, saya rasa sudah dilakukan umat Kristiani dari tahun lalu. Kita bisa juga teleconceling, melalui perjanjian meeting ya, doa bersama dan sebagainya,” katanya.

Dia kembali mengingatkan umat Kristiani untuk benar-benar mematuhi prokes, sebagai bentuk ibadah yang sejati. “Dengan disiplin menjalankan prokes, kita bukan hanya menjaga diri sendiri, tapi juga melindungi orang lain,” pungkasnya. (RN)