Ketua Program Studi Ilmu Hubungan Internasional Universitas Kristen Indonesia (UKI) Valentina Lusia Sinta Herindrasti

Jakarta, innews.co.id – Sejak ratusan tahun silam, negara-negara di Eropa begitu gencar melakukan politik imperialisme guna menguasai seluruh dunia untuk kepentingan negaranya sendiri. Dulu, imperialisme lebih ke arah penguasaan wilayah dan sumber daya alam, namun kini semakin komplit dengan menguasai energi serta persenjataan.

“Konflik Rusia-Ukraina menjadi cermin masih adanya imperialisme di Eropa. Namun memang hidup berdampingan dengan negara besar, apalagi yang memiliki sejarah geopolitik imperialis tidaklah mudah dan harus terus diwaspadai,” kata Ketua Program Studi Ilmu Hubungan Internasional Universitas Kristen Indonesia (UKI) Valentina Lusia Sinta Herindrasti, kepada innews di Ruang FISIP UKI, Jakarta, Jumat (29/7/2022) siang.

Dikatakannya, keterbatasan sumber daya alam juga bisa menjadi faktor pemicu lahirnya gerakan imperialisme. Itu (resource war) sebenarnya sudah terjadi di banyak tempat. Tak hanya itu, kata Sinta, perang Rusia-Ukraina lebih berbau politis.

Konflik Rusia-Ukraina juga diperburuk dengan masuknya dukungan negara lain, baik terhadap Rusia maupun Ukraina. “Saat ini makin terlihat persaingan existing negara super power. Contoh, dalam hal ini antara Amerika Serikat dengan Tiongkok,” ujarnya.

Sinta menilai konflik Rusia-Ukraina akan berakhir, bila para politisi dari kedua negara bersepakat. Lainnya, bila Rusia merasa cukup dengan menguasai beberapa wilayah Ukraina. Namun sepertinya saat ini kondisi masih berfluktuasi. Itu ditandai dengan telah ditandatanganinya bantuan senjata dari Amerika Serikat dan ‘sekutunya’ kepada Ukraina. Tentu saja hal ini bisa memancing Rusia untuk tetap mengobarkan perang.

Hal lain yang menjadi catatan Sinta terkait perang Rusia-Ukraina adalah ketika seorang pemimpin memiliki ‘masalah’ di dalam negerinya, dia akan meorientasikan action-nya keluar. Sudah banyak contoh, mungkin salah satunya Putin. Saat dibawa keluar, maka akan tercipta masalah baru. “Kita bersyukur dengan Presiden Jokowi, sekalipun mungkin banyak masalah di dalam negeri, tapi saat keluar, justru beliau coba mencari solusi, baik melalui aliansi, kolaborasi, dan partnership untuk menyelesaikan bersama-sama, termasuk masalah dalam negeri. Itu salah satu kekuatan Presiden Jokowi,” urainya. (RN)