SMA Negeri 58 Jakarta Timur

Jakarta, innews.co.id – Aksi intoleransi yang dilakukan oknum guru SMAN 58 Jakarta Timur berinisial TS, bakal berujung sanksi?

Saat ini, proses hukum di Kepolisian masih berjalan. Begitu pula proses di Dinas Pendidikan DKI Jakarta.

Sebagaimana diinfokan, kasus TS berawal dari beredarnya tangkapan layar percakapan di grup WhatsApp terkait pemilihan Ketua OSIS di SMAN 58, di wilayah Ciracas, Jakarta Timur.

Kepala Sekolah SMAN 58 Dwi Arsono menjelaskan, peristiwa itu terjadi ketika TS yang merupakan guru Pendidikan Agama dan Budi Pekerti tengah memberikan materi pelajaran.

“Dia mengaku awalnya niatnya itu adalah menerapkan pelajaran agama Islam tentang kepemimpinan, ini ada di silabus dan itu diperuntukkan untuk di-share kepada anggota (grup WhatsApp) rohis yang berjumlah 44 orang. Dishare secara khusus untuk rohis saja,” kata Dwi, Selasa (27/10/2020).

Namun, entah kenapa, TS tiba-tiba mengeluarkan pernyataan ajakan tersebut di dalam grup. Salah satu anggota grup kemudian menyebar ulah TS. Berikut kutipan pernyataan TS dalam grup Whatsapp yang tersebar:

“Assalamualaikum…hati2 memilih ketua OSIS Paslon 1 dan 2 Calon non Islam…jd ttp walau bagaimana kita mayoritas hrs punya ketua yg se Aqidah dgn kita.”

“Mohon doa dan dukungannya utk Paslon 3.”

“Awas Rohis jgn ada yg jd pengkhianat ya,” demikian pesan dalam grup tersebut.

Oleh sejumlah pelajar yang tergabung dalam komunitas Pelajar Bhineka Tunggal Ika, TS pun dilaporkan ke polisi. Laporan diterima Polres Jakarta Timur pada Senin (2/11/2020).

“Iya (dilaporkan), pihak pelapor sudah membuat laporan di Polres dan akan ditindaklanjuti oleh Satreskrim,” kata Wakapolres Jakarta Timur AKBP Steven Tamuntuan, Selasa (3/11/2020).

Pelapor, dalam hal ini koordinator Bhineka Tunggal Ika Milchias Jacob, membenarkan bahwa ia sudah mendatangi Polres Jakarta Timur untuk diperiksa.

“Awalnya atas nama Bhineka Tunggal Ika, tetapi saat melaporkan memang hanya atas nama saya,” kata Milchias.

Milchias merasa dirugikan dengan ajakan TS agar jangan memilih calon Ketua OSIS beragama non-muslim. “Ketika melihat kejadian itu, sudah pasti itu disesalkan. Intinya saya datang ke Polres Jaktim untuk menolak dan mengutuk tindakan seperti itu,” ujar dia.

Hingga kini, pihak kepolisian masih menyelidiki kasus ini, terutama melihat ada tidaknya tindak pidana dalam kasus tersebut.

“Penyidik masih melakukan penyelidikan,” kata Wakasatreskrim Polres Jakarta Timur, AKP Suardi Jumaing, Rabu (11/11/2020).

Dijelaskan, pelapor juga sudah diperiksa. “Semoga dalam minggu ini rilisnya keluar,” tambah dia.

Wakapolres Jakarta Timur AKBP Steven Tamuntuan mengatakan pasal disangkakan dalam kasus ini adalah Pasal 28 ayat 2 UU tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) no 11 tahun 2008, juga pasal 156 dan 157 KUHP.

“Kami kumpulkan bukti-bukti tambahan dulu, baru nanti menentukan pasal mana,” kata Steven.

Sementara itu, sebelum proses hukum di Kepolisian, Dinas Pendidikan DKI Jakarta lebih dulu memproses kasus ini. Kabid Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) Disdik DKI Jakarta Didih Hartaya mengatakan, pihaknya memeriksa beberapa orang terkait ujaran SARA yang dilakukan TS.

“Pemeriksaan dilakukan Sudin (Pendidikan Jakarta Timur), dan yang dimintai keterangan di antaranya kepala sekolah, wakil (kepala sekolah), termasuk siswa,” kata Didih, beberapa waktu lalu.

Dari hasil pemeriksaan yang terlebih dulu dijalani TS, Disdik DKI Jakarta bakal menentukan sanksi yang tepat sesuai disiplin pegawai negeri sipil (PNS). Selama pemeriksaan, mengacu Peraturan Pemerintah (PP) nomor 53 tahun 2020 tentang Disiplin PNS, TS tetap berstatus guru SMAN 58.

“Untuk kasus TS sedang proses finalisasi hasil dari pemeriksaan Sudin Pendidikan Wilayah II Jakarta Timur,” kata Didih.

Sementara itu, Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria dengan tegas meminta Dinas Pendidikan DKI Jakarta mengenakan sanksi terhadap TS.

Menurut Ariza, tindakan intoleran merupakan sebuah kesalahan. “Tidak boleh seorang pendidik, apalagi guru mengatur atau intervensi soal pilihan OSIS,” tandasnya.

Dia juga berharap ini menjadi pelajaran bagi semua pihak. “Semoga ini menjadi pelajaran bagi siapapun tidak masuk pada wilayah agama pada hal-hal ini,” tukasnya. (RN)