Alam Prawiranegara (ke-4 dari kanan) kagumi acara Suroan di Candi Songgoriti

Jakarta, innews.co.id – Kekayaan budaya di Indonesia merupakan modal besar bangsa ini, tidak saja untuk mendukung pariwisata, tapi juga mempererat silahturahmi di antara anak bangsa dan memperkaya khasanah budaya sebagai warisan para leluhur.

“Indonesia memiliki kebudayaan yang beragam. Itu harus selalu dilestarikan. Salah satunya dengan secara rutin mengadakan event-event budaya,” kata Alam Prawiranegara pemerhati sekaligus pelaku budaya, dalam keterangan persnya yang diterima innews, Minggu (31/7/2022).

Acara Suroan di Candi Songgoriti berjalan sukses

Dia mencontohkan acara Suroan Songgiriti yang diadakan di Pelataran Candi Songgoriti, di Desa Songgokerto, Kota Batu, Malang, Jawa Timur, Minggu, 31 Juli 2022, selepas maghrib. “Acara Suroan ini bagus sekali karena memiliki makna rasa syukur kepada Sang Pencipta atas keberkahan yang diperoleh warga sekitar,” terangnya.

Wanita cantik yang juga dikenal sebagai advokat ini menambahkan, tujuan Suroan adalah untuk melakukan pembersihan diri atau raga, termasuk jiwa untuk membuka lembaran hidup baru kembali.

Alam Prawiranegara (tengah) dukung acara Suroan di Candi Songgoriti jadi kalendar tetap

Dalam acara Suroan ini, warga secara bergotong royong membuat Jenang Suro. “Warga secara bersama-sama mengaduk jenang dalam tungku besar diatas perapian kayu bakar. Proses mengaduknya tidak boleh berhenti selama 4-5 jam dengan kayu sepanjang satu meter. Sebelum mengaduk jenang, acara diawali dengan doa bersama,” ungkap Alam.

Diperkirakan jenang yang dihasilkan mencapai 15 kilogram yang kemudian dinikmati bersama oleh warga bersama makanan lainnya. “Melakoni acara ini, nampak sekali keguyuban warga,” tuturnya.

Alam Prawiranegara pemerhati dan pelaku budaya Nusantara

Pada kesempatan itu juga secara resmi diangkat Mbah Wiji Mulyo sebagai pemangku adat wilayah Songgoriti sebagai usulan dari perangkat desa dan masyarakat di wilayah tersebut.

Keunikan yang muncul bahwa acara ini diadakan setiap tanggal 1 Suro tahun kalender Jawa. Di mana ini selalu sama dengan 1 Muharram Islam.

“Saya berharap acara yang sudah berlangsung lebih dari 20 tahun ini bisa terus dilestarikan, tidak hanya oleh masyarakat tapi juga pemerintah setempat. Karena ini merupakan kekayaan budaya sekaligus penguatan bagi kesatuan bangsa,” tukas Alam Prawiranegara. (RN)